<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Journalism of Conscience</title>
	<atom:link href="http://edisant.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edisant.wordpress.com</link>
	<description>touching heart, reaching light</description>
	<lastBuildDate>Mon, 25 May 2009 06:26:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='edisant.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/852f6906a0c932786e6a411239e3b80f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Journalism of Conscience</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Islamic Calendar</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2009/05/25/islamic-calendar/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2009/05/25/islamic-calendar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 06:26:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisant.wordpress.com/2009/05/25/islamic-calendar/</guid>
		<description><![CDATA[

       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=43&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img style="visibility:hidden;width:0;height:0;" border="0" width="0" height="0" src="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI*MzIzMjcwMjk1MyZwdD*xMjQzMjMyNzc1NTAwJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMENhbGVuZGFyJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZ*PSZvPTA5YjI2Y2U4NmMxMTQwYjY4NTBlMjc4ZDZmOGZlNDBhJm9mPTA=.gif" />
<div style="text-align:center;width:150px;height:150px;margin:0 auto;"><iframe frameborder="0" width="158" height="158" src="http://wpcomwidgets.com/?width=150&amp;height=150&amp;src=http%3A%2F%2Fwww.widgipedia.com%2Fwidgets%2Falhabib%2FSticky-Note---Islamic-Hijri-Calendar-2834-8192_134217728.widget%3F__install_id%3D1243232595251%26__view%3Dexpanded&amp;quality=best&amp;flashvars=%26col1%3Dffff99%26dayAdd%3D0%26cal%3Dtrue%26gig_lt%3D1243232702953%26gig_pt%3D1243232775500%26gig_g%3D1%26gig_n%3Dwordpress&amp;loop=false&amp;wmode=transparent&amp;menu=false&amp;allowscriptaccess=sameDomain&amp;_tag=gigya&amp;_hash=6b42cc80e3bb95af7ba587b0d1d232dc" id="6b42cc80e3bb95af7ba587b0d1d232dc"></iframe></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=43&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2009/05/25/islamic-calendar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://counters.gigya.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bHQ9MTI*MzIzMjcwMjk1MyZwdD*xMjQzMjMyNzc1NTAwJnA9MjM4OTgxJmQ9SXNsYW1pYyUyMENhbGVuZGFyJm49d29yZHByZXNzJmc9MSZ*PSZvPTA5YjI2Y2U4NmMxMTQwYjY4NTBlMjc4ZDZmOGZlNDBhJm9mPTA=.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jurnalisme Objektif Vs Jurnalisme Subjektif</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2009/03/24/jurnalisme-objektif-vs-jurnalisme-subjektif/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2009/03/24/jurnalisme-objektif-vs-jurnalisme-subjektif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 16:15:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisant.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[GAGASAN jurnalisme objektif telah menjadi isu penting selama hampir satu setengah abad terakhir, yang puncaknya ketika menjadi paradigma berita utama di Amerika Serikat para tahun 1931. Waktu itu, paradigma objektif menjadi senjata utama menghadapi propaganda pasca Perang Dunia I. Sampai tahun 1930-an, jurnalisme objektif banyak dipersamakan dengan istilah netralitas, atau memisahkan antara fakta dan nilai.
Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=40&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>GAGASAN jurnalisme objektif telah menjadi isu penting selama hampir satu setengah abad terakhir, yang puncaknya ketika menjadi paradigma berita utama di Amerika Serikat para tahun 1931. Waktu itu, paradigma objektif menjadi senjata utama menghadapi propaganda pasca Perang Dunia I. Sampai tahun 1930-an, jurnalisme objektif banyak dipersamakan dengan istilah netralitas, atau memisahkan antara fakta dan nilai.</p>
<p><span id="more-40"></span>Dalam perkembangannya kemudian, doktrin objektifitas menjadi strategi jitu para wartawan menghadapi berbagai “serangan”. Secara ekonomis, strategi ini memang menguntungkan, karena bisa melindungi para wartawan dari tudingan alat kepentingan politis. Dengan paham netralitas yang dianut, media kemudian merasa tidak pantas untuk disudutkan oleh siapa pun.</p>
<p>Pertanyaannya kemudian, apa yang dimaksud dengan netralitas secara operasioanal? Karena berbagai kritikan, setelah itu muncul perubahan dari fokus pada netralitas menjadi penekanan pada akurasi (accuracy), keseimbangan (balance), dan kejujuran (fairness). Dan dalam wacana kontemporer, imparsialitas jurnalisme ini senafas dengan tujuan produksi berita yang pluralis, yakni merepresentasikan suara khalayak yang beragam latar belakang (Durham, 1998:118). Sebagai sebuah ideologi, jurnalisme objektif ini ini mendasarkan pada pandangan empiris atas dunia, yang memisahkan antara fakta dan nilai, dan percaya bahwa eksistensi fakta sebagai hal yang terpisah di luar sana. Berita didefinisikan sebagai wujud yang terpisah (independen) dari diri wartawan. Berita adalah fatka yang ada ‘di luar sana’ yang menunggu dicari dan ditulis, serta kemudian dipublikasikan oleh media (Erjavec, 2003).</p>
<p>Gagasan jurnalisme objektif ini memang kemudian berhadapan dengan banyak kritik. Salah satu diantaranya, objektifitas seringkali dijadikan sebuah selubung atas kebohongan terhadap publik. Misalnya wartawan seolah-olah terbebas dari dosa setelah mematuhi kaidah pemberitaan berimbang, meliput dua pihak yang bertikai tanpa mempedulikan kebenaran dari fakta yang disampaikan pihak-pihak tersebut. Wartawan seolah lari dari tanggung jawab atas kebenaran fakta peristiwa, dengan dalih biarkan khalayak sendiri yang memaknainya.</p>
<p>Stephen Ward menilai, gagasan objektif untuk memisahkan antara fakta dan nilai adalah hal yang tidak mungkin, karena semua pengetahuan, bahkan termasuk data-data sains tidak bisa menjadi bebas nilai. Bahkan gagasan ini sesungguhnya merupakan penipuan, karena seorang wartawan tak lain adalah ‘aktor-aktor’ politik yang pasti memiliki bias dalam laporannya. Tidak saja bias karena faktor personal (ideologi, pengalaman) tapi juga karena tekanan eksternal (Ward, 1998:157).</p>
<p>Sebagai alternatif gagasan jurnalisme objektif ini, kemudian muncul jurnalisme subjektif atau interpretatif. Jurnalisme interpretatif secara mudah sering diartikan jurnalisme dalam konteks. Artinya, wartawan tak semata-mata menyajikan fakta, tetapi juga menyuguhkan makna. Maka, seorang wartawan interpretatif senantiasa memaknai tiap jalinan peristiwa, melihat keterkaitan antarfakta, kemudian berbagi pandangan dengan khalayak (Oetama, 2003).</p>
<p>Jurnalisme interpretatif mulai dikenal ketika Curtis D.MacDougall dari Norhwestern University, Amerika Serikat (AS), menulis buku berjudul Interpretative Reporting (1938). Jurnalisme ini semakin dikenal setelah Perang Dunia II ketika pada tahun 1949 laporan The Commission of Freedom of the Press di AS yang diketuai Robert Hutchins mengumumkan bahwa media massa mempunyai kewajiban untuk menyajikan “penuturan yang benar, komprehensif, dan cerdas tentang peristiwa-peristiwa sehari-hari dalam konteks yang memberikan makna.” Komisi ini didirikan setelah perang dengan bantuan keuangan dari Henry Luce, penerbit majalah Time dan Life, serta Encyclopedia Britannica, untuk mempelajari performa media berita.</p>
<p>Desakan ke arah kebutuhan akan suatu reportase interpretatif muncul ketika banyak reporter yang meliput gagasan New Deal-nya Presiden Franklik D. Roosevelt pada masa depresi Besar tahun 1930-an dihadapkan pada program-program baru yang didasarkan pada teori-teori ekonomi baru. Upaya untuk mengatasi akibat-akibat depresi yang menghancurkan ekonomi itu merupakan berita dalam negeri terbesar pada tahun 1930-an. Merangsang ekonomi dengan pengeluaran-pengeluaran pemerintah adalah bertentangan dengan pemikiran ekonomi tradisional. Teknik lama dengan dengan mengutip pendapat-pendapat para pakar ekonomi dari kedua kubu teori yang berlawanan gagal untuk menyajikan gambaran yang lengkap tentang apa yang sedang terjadi. Itulah sebabnya buku Reporting for Beginner karya Curtis D.MacDougall yang diterbitkan pada tahun 1932 diubah judulnya menjadi Interpretative Reporting pada tahun 1938 dengan beberapa perubahan dan penambahan isi yang disesuaikan dengan tuntutan keadaan (Kusumaningrat, 2005:239).</p>
<p>Gagasan interpretif ini kemudian memicu kontroversi selama seperempat abad lebih, karena masih banyak juga wartawan yang menjadi penganut paham ‘objektif’. Menyajikan berita peristiwa dalam “suatu konteks yang bermakna” bertentangan dengan kaidah pemberitaan yang sudah diterima dan dipertahankan pada masa itu dengan sangat kukuh, yakni untuk selalu memelihara obyektivitas dalam pemberitaan. Dengan perkataan lain, berita harus faktual, bukan isapan jempol atau opini si wartawan. Dalam paruh abad ke-20, pendirian seorang pemimpin redaksi adalah: “Just give me the fact” (Berikan saja aku fakta-faktanya). Dasar pikirannya adalah bahwa pembaca akan melakukan interpretasinya sendiri tentang fakta-fakta. Tujuannya tak lain untuk bersikap objektif, menghindari pengambilan kesimpulan dari fakta-fakta. Satu-satunya tempat dalam surat kabar untuk interpretasi adalah tajuk rencana yang ditulis oleh para pemimpin redaksi. Tajuk rencana ini memuat opini resmi surat kabar bersangkutan tentang peristiwa-peristiwa yang sedang hangat (Kusumaningrat, 2005:238).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=40&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2009/03/24/jurnalisme-objektif-vs-jurnalisme-subjektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Jurnalisme</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2009/03/11/sekilas-jurnalisme/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2009/03/11/sekilas-jurnalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 16:59:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisant.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[JURNALISTIK atau jurnalisme berasal dari kata journal, artinya catatan harian, atau catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti surat kabar. Journal berasal dari bahasa Latin diurnalis, artinya harian atau tiap hari. Dari istilah inilah kemudian lahir kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik Kusumaningrat, 2005:15). Istilah jurnalisme dan jurnalistik pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=37&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>JURNALISTIK atau jurnalisme berasal dari kata journal, artinya catatan harian, atau catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti surat kabar. Journal berasal dari bahasa Latin diurnalis, artinya harian atau tiap hari. Dari istilah inilah kemudian lahir kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik Kusumaningrat, 2005:15). Istilah jurnalisme dan jurnalistik pada dasarnya bermakna sama. Jurnalisme mengacu kepada istilah yang biasa dipakai di Amerika Serikat (journalism), sementara jurnalistik (journalistic) mengacu ke Eropa. <span id="more-37"></span> Menurut Romli (2000), istilah jurnalime dapat ditinjau dari tiga sudut pandang: harfiyah, konseptual, dan praktis. Secara harfiyah, jurnalisme artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan. Secara konseptual, jurnalisme dapat dipahami dari tiga sudut pandang yaitu sebagai proses, teknik, dan ilmu. Sebagai proses, jurnalisme adalah “aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis). Sebagai teknik, jurnalisme adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara. Sebagai ilmu, jurnalisme adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalisme termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistme termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan. Secara praktis, jurnalistik adalah proses pembuatan informasi atau berita (news processing) dan penyebarluasannya melalui media massa.   Mc Dougall mengartikan jurnalisme sebagai kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa (Kusumaningrat, 2005:15). Sementara Adinegoro mengartikannya sebagai kepandaian mengarang yang pokoknya memberi pengertian dan perkabaran kepada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya (Yuliana, 1998:5).  Sejarah jurnalisme dimulai sekitar 3000 tahun yang lalu, ketika Fir’aun di Mesir, Amenhotep III, mengirimkan ratusan pesan kepada para perwiranya di provinsi-provinsi untuk memberitahukan apa yang terjadi di ibu kota. Kemudian di Athena, 2000 tahun yang lalu, Acta Diurna yang berisi kebijakan senat, peraturan pemerintah, berita kelahiran dan kematian, ditempelkan di tempat-tempat umum (Kusumaningrat, 2005:16).   Jurnalisme berkembang pesat sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg, tahun 1450. Mesin dengan logam yang dapat digerakkan itu konon terinspirasi dari teknik memeras anggur di tanah kelahirannya, Rhineland. Piranti ini menandai awal masifikasi bahan cetakan. Pada tahun 1500, percetakan telah didirikan di lebih dari 250 tempat di Eropa. Pada waku itu, percetakan telah menghasilkan lebih dari 27.000 judul buku. Jika diasumsikan tiap judul buku dicetak sebanyak 500 eksemplar, maka kira-kira 13 juta buku telah beredar di Eropa yang berpenduduk 100 juta orang. Ledakan informasi tak bisa dihindari. Pada abad pertengahan, masalahnya adalah kurangnya buku. Pada abad ke-16, masalahnya menjadi: kelebihan jumlah buku. Seorang penulis Italia mengeluh, pada tahun 1550 telah tersedia demikian banyak buku sehingga kita kita punya waktu lagi , bahkan sekadar untuk membaca judulnya saja (Brigs dan Burke, 2006:22) . Orang pun banyak memberikan perhatian pada media (jurnalisme), terutama dengan terbitnya surat kabar yang kian marak pada abad ke-17. Surat kabar pertama yang terbit di Eropa secara teratur adalah Aviso dan Relation (Jerman). Setelah itu terbit juga di Belanda (1618), Perancis (1620), Inggris (1620), dan Italia (1636). Masa-masa sesudahnya, kehadiran koran dan majalah kian tak terbendung. Di Inggris saja, pada tahun 1792, diperkirakan 15 juta surat kabar telah terjual (Emery dan Smythe, 1989:112).  Terkait dengan sejarah jurnalisme ini, ada sedikit perbedaan di antara para pakar. Misalnya Warren G. Bovee, berpendapat jurnalisme lahir semenjak munculnya surat kabar. Alasannya, jurnalisme merujuk pada aktivitas jurnalis, sedangkan jurnalis baru ada setelah munculnya surat kabar. Adapun berbagai media komunikasi sebelumnya seperti Acta Diurna belum bisa dikatakan sebagai surat kabar (Bovee, 1999:22).  Bagi wartawan senior Kompas, Luwi Ishwara, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan teknis, tapi lebih merupakan pedoman hidup (the way of life). Seorang wartawan tak akan menanggalkan profesinya setelah jam 5 sore (setelah deadline). Karena setiap saat dia dituntut untuk selalu mencari gagasan baru (Iswara, 1998).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=37&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2009/03/11/sekilas-jurnalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dramaturgi Pastor dan Imam Sholat</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2009/03/06/dramaturgi-pastor-dan-imam-sholat/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2009/03/06/dramaturgi-pastor-dan-imam-sholat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 15:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisant.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[“Kamu tak akan pernah menjadi religius ketika kamu tak pernah merasakan kesendirian,” kata orang bijak. Memang, kesendirian bisa menjadi indikator religiusitas seseorang. Dalam kesendirian, kesadaran akan eksistensi Tuhan yang lebih menentukan, tak ada lagi motif-motif karena orang lain. Sementara itu, kesalehan dalam ruang publik sungguh susah menilai ketulusannya. Ada seribu motif ketika seseorang melakukan ibadah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=34&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;">“Kamu tak akan pernah menjadi religius ketika kamu tak pernah merasakan kesendirian,” kata orang bijak. Memang, kesendirian bisa menjadi indikator religiusitas seseorang. Dalam kesendirian, kesadaran akan eksistensi Tuhan yang lebih menentukan, tak ada lagi motif-motif karena orang lain. Sementara itu, kesalehan dalam ruang publik sungguh susah menilai ketulusannya. Ada seribu motif ketika seseorang melakukan ibadah di tengah-tengah komunitas sosialnya.<span id="more-34"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;">Namun, ritual keagamaan memang tak selalu dipraktikkan secara individual (dalam kesendirian). </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Bahkan, beberapa di antaranya mengharuskan kesertaan banyak orang (dalam ruang publik). Misalnya dalam Islam, ada sholat berjamaah yang mengharuskan kesertaan orang lain (sholat Jumat, sholat Ied). Dalam Katolik terdapat misa yang dilakukan secara bersama-sama dengan tata cara tertentu, begitu pun dengan Kristen Protestan dengan kebaktiannya.<span> </span><span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dalam ruang sosial, praktik-praktik ritual tersebut sejatinya tak berbeda dengan perilaku sosial lainnya, terutama dalam hal proses, interaksi, dan makna-makna subyektif. Maka dalam interaksi yang terjadi misalnya, aksi ritual keagamaan seseorang tetap dalam frame “ketertiban interaksi” untuk memenuhi “keutuhan diri”. Dan untuk menjada citra diri ini, kata Goffman, seseorang akan selalu melakukan pertunjukan (<em>performance</em>) di hadapan khalayak. Kaum dramaturgis memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran mereka (Gronbeck dalam Littlejohn, 1996:166).</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Makalah ini mencoba menampilkan praktik teatrikal tersebut dalam ritual keagamaan. Penelitian difokuskan pada dua agama, yakni Islam dan Katolik. Pada Islam, peneliti mengambil contoh sholat berjamaah dan dalam Katolik, akan ditampilkan praktik misa dan kehidupan para pastor di luar misa. Sebagai informan penelitian dipilih sepuluh orang yang biasa menjadi imam sholat dan lima orang pastor. Selain dengan wawancara, peneliti juga melakukan observasi dengan mengamati perilaku informan, terutama untuk melihat panggung belakang (<em>back stage</em>) mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Ketika Menjadi Imam </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Dalam Islam, untuk menjadi pemimpin salah satu ritual keagamaan memang tak serumit seperti di agama lain seperti Katolik. Untuk menjadi imam sholat misalnya, siapa pun bisa (asal bisa bacaan sholat, tentu saja). Memang ada prioritas bagi mereka yang memenuhi beberapa kriteria, misalnya bacaan Al-Qur’annya paling baik, paling mengerti sunnah, yang paling tua usianya dan lain sebagainya (HR.Muslim). Namun dalam praktiknya kriteria ini sering diabaikan. Ketentuan yang paling baik bacaan Al-Qur’annya misalnya sebagai kriteria paling penting, seringkali dibaikan dan masyarakat kadang lebih mempertimbangkan faktor usia dan ketokohan.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Jadi, menjadi seorang imam sholat merupakan sebuah kehormatan tersendiri. Jika sholat berjamaah merupakan sebuah miniatur masyarakat, maka seorang imam adalah ibarat pemimpin bagi masyarakatnya. Dia telah diberi mandat oleh makmum untuk memimpin jalnnnya sholat dari awal hingga akhir. Peran sebagai pemimpin inilah yang akhirnya tak bisa dihindari oleh seorang pemimpin. Maka dengan segala otoritas yang dia miliki, model kepemimpinan seperti apa yang akan ditampilkan akan kembali pada konsep diri (<em>self</em>) sang imam. Maka perbedaan tipikal imam akan berangkat dari pembacaan atas situasi yang berlainan di antara mereka.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam, peneliti menemukan beberapa tipe imam:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span><em>Pertama<strong>, imam afirmatif</strong>.</em> Dalam kategori ini, seorang gaya seorang imam lebih merupakan afirmasi keinginan jamaah (makmum). Mereka berprinsip, “saya ditunjuk oleh jamaah, maka saya tak boleh mengecewakan mereka.” Karenanya, gaya memimpin sholatnya sangat kondisional, baik dalam lamanya waktu sholat maupun pilihan ayat yang dibacakan. Seperti yang diutarakan oleh seorang informan: </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Sebagai imam saya harus peka bagaimana kondisi jamaah. Jika yang datang lebih banyak orang-orang tua, saya akan pilih surat yang pendek-pendek. Kasihan mereka (kalau sholatnya terlalu lama). Atau pas sholat Isya, sementara banyak yang belum pulang ke rumah sejak Maghrib, saya akan pilih surat-surat pendek</span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di sini, seorang imam juga dituntut untuk membaca selera jamaah, yang barangkali berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Seorang informan yang kebetulan sering menjadi imam di beberapa tempat yang berbeda mengaku selalu menyesuaikan dengan karakter jamaahnya. Dia mengatakan:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Kalau menjadi imam di kampus, yang hadir kebanyakan mahasiswa. Biasanya mereka suka bacaan surat yang agak panjang. Tetapi di kampung, surat pendek seperti Qulhu (surat Al-Ikhlas), An-nas, itu udah biasa (dibaca).</span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Dalam berpakaian, mereka juga selalu menyesuaikan. Simbol-simbol seorang imam seperti sarung, peci, sajadah, baju koko, atau tasbih perlu diperhatikan. Ketika berada di masjid yang bertipikal tradisional, misalnya di masjid-masjid NU (Nahdlatul Ulama), mereka berupaya agar simbol-simbol itu dipakai. “Tapi kalau di masjid ber-fiqih Muhammadiyah atau Persis, hal itu tak menjadi penting,” katanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Saking kompromisnya, imam afirmatif pun bisa lintas fiqih, demi memuaskan keinginan makmum. Seorang informan mengaku biasanya menggunakan fiqih ala Muhammadiyah, seperti tidak qunut dalam sholat subuh atau tidak mengeraskan (<em>sirr</em>) dzikir sesudah solat. Namun, ketika menjadi imam di masjid berfiqih NU, dia menyesuaikan. Dia berdalih, kaidah fiqih itu fleksibel, terutama dalam hal-hal yang menjadi <em>khilafiah</em> (perbedaan pendapat) di antara para ulama. Dia mengungkapkan:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Bagi saya, qunut itu bukanlah hal yang prinsip. Ini kan khilafiyah, sehingga kadang saya lakukan juga demi kemaslahatan bersama.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span><em>Kedua<strong>, imam narsis</strong></em><strong>.</strong> Saya gunakan istilah narsis, karena imam dalam kategori ini adalah mereka yang cenderung bersikap untuk kesenangannya sendiri, termasuk menunjukkan keunggulan dan kehebatannya dalam memimpin sholat jamaah. Bagi mereka, memimpin sholat berarti kesempatan untuk menunjukkan kehebatan dirinya, baik dalam hal jumlah hafalan ayat maupun gaya bacaan yang memikat. Seorang informan yang kebetulan juga seorang <em>qarie’</em> (pelafadz Al-Qur’an dengan indah) menuturkan:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Nggak tau lah, apakah ini riya atau tidak, sewaktu mengimami sholat saya merasa dituntut untuk membawakan bacaan ayat dengan indah. Saya bisa dibilang seorang qarie’ nasional, jadi bacaan (ayatnya) harus bagus. Bisa dibilang, ini soal reputasi.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Informan lain mengaku ada kepuasan tersendiri ketika dia bisa membaca ayat-ayat panjang, seolah dia bisa membuktikan pada orang lain bahwa dirinya penghafal Al-Qur’an yang handal. Dia menuturkan:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Gimana ya…saya kan pengurus DKM (Dewan Keluarga Masjid), malu dong kalau bacaannya qulhu melulu. Saya paksakan untuk hafal beberapa penggal surat Al-Baqarah dan surat-surat lainnya.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Dalam berbusana, mereka cenderung memakai pakaian yang sesuai. Citra diri, bagi mereka, adalah hal penting yang tak bisa diabaikan. Dalam beberapa kasus mereka menolak menjadi imam karena sedang memakai kaos atau tidak memakai peci. Seorang informan menuturkan:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Saya merasa gak enak saja, masak jadi imam pakaiannya gak pantas. Yang di depan kan mestinya yang paling rapi dan bagus pakaiannya. </span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Tentang fiqih, mereka agak ketat. Berbeda dengan imam afirmatif, mereka mengangap fiqih adalah soal keyakinan pribadi yang harus dipegang teguh. Informan mengatakan:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Ketika saya biasa menggunakan qunut, ya makmum harus mengikuti, tak peduli di masjid mana. Ini kan soal keyakinan. Dan saya kira makmum juga akan mengerti.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span><em>Ketiga, <strong>imam egois</strong>.</em> Berbeda dengan kategori imam narsis, mereka yang termasuk di sini tak berpretensi untuk menunjukkan kehebatan dan keunggulan (kualitas) dirinya saat menjadi imam sholat. Bahwa mereka cenderung abai terhadap realitas jamaah dikarenakan oleh kepentingan-kepentingan pribadi yang biasanya bersifat kondisional. Mereka biasanya bertipikal cuek, mengikuti selera individualnya. Surat yang dipilih, panjang pendekanya sholat, pakaian yang dipakai, mengikuti apa yang dia butuhkan saat itu. Ketika memilih bacaan ayat, informan<span> </span>mengaku tak terlalu menghiraukan apa yang diinginkan jamaah, tetapi lebih pada <em>mood</em> dirinya sendiri. “Ketika <em>pingin</em> baca ayat-ayat panjang, ya baca yang panjang. Tapi kalau lagi gak <em>mood</em>, baca yang pendek-pendek aja. </span><span style="font-family:Verdana;">Apa kata hati aja lah..,” kata dia. Jadi, yang lebih mereka pertimbangkan adalah kepentingan mereka. Prinsipnya, “jamaah adalah jamaah, saya adalah saya.” </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;"><span> </span>Perilaku cuek mereka nampak juga dalam berpakaian. </span><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Mereka sering menyepelekan simbol-simbol seperti peci, sarung atau baju koko. Bagi mereka, simbol-simbol ini tak termasuk hal penting yang harus diperhatikan ketika menjadi imam sholat. Salah seorang informan menuturkan:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Saya sih kondisional dalam berpakaian. Jika siang hari lagi panas dan gerah, saya malas pakai koko. Saya lebih suka pakai kaos. Yang penting kan saya nyaman beribadah. </span></em><em><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Buat apa pakai baju rapi, tapi kita jadi nggak khusyuk karena menahan gerah.</span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="FI">Keempat<strong>, imam idealis-skripturalis</strong></span></em><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="FI">. Imam jenis ini adalah mereka yang berupaya semaksimal mungkin melaksanakan sholat sesuai kaidah teks hadist, termasuk dalam sholat berjamaah. Jadi, pilihan-pilihan panjang pendekanya surat, pakaian yang dikenakan, sampai kaidah fiqih yang dipilih, semuanya bersandar pada ketentuan teks yang diyakininya sebagai sunnah Rasulullah SAW. Misalnya dalam hal bacaan sholat, mereka berupaya mengikuti kaidah sunnah. Salah seorang informan menuturkan:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="FI">Dalam sholat subuh dan isya’, saya biasanya memilih surat-surat yang agak panjang ayatnya, karena memang seperti itu lah yang diajarkan Rasulullah.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Dalam hal berpakaian, mereka berprinsip, sesuai dengan sunnah Nabi, yang penting adalah rapi, sopan, dan tentu saja menutup aurat. Simbol-simbol seperti kopiah atau baju koko, menurut mereka, tidaklah prinsipil karena hal tersebut lebih merupakan produk budaya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Dan yang paling mereka pegang adalah dalam hal kaidah fiqih sholat. Mereka sholat sebagaimana Rasulullah sholat. “Jadi, ketika saya meyakini bahwa Rasulullah tidak qunut saat sholat subuh, saya juga akan begitu, di manapun saya sholat,” ujar salah seorang informan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Bagi mereka, realitas makmum tidaklah mempengaruhi bagaimana sholat berjamaah dilakukan. Sebagai makmum, menurut mereka, seharusnya mengikuti penuh apa yang dilakukan imam dan bukan sebaliknya. Filosofinya, imam adalah pemimpin dan makmum adalah yang dipimpin, maka semestinya yang dipimpin (<em>the follower</em>) mengikuti yang memimpin (<em>the leader</em>). <span> </span>Informan mengungkapkan:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="line-height:150%;font-family:Verdana;" lang="FI">Wah, kalau sampai imam yang menyesuaikan makmum bahaya. Bisa-bisa kita jadi riya, sholat kita lebih dipengaruhi makmum.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Kelima, <strong>imam idealis-kompromis</strong>.</span></em><span style="font-family:Verdana;" lang="FI"> Mereka yang termasuk di sini adalah yang berupaya melaksanakan tugasnya sebagai imam sesuai dengan kaidah sunnah, namun memperhatikan juga aspek lingkungan saat sholat. Bagi mereka, penyesuaian dengan lingkungan bukan berarti mengafirmasi tuntutan faktor eksternal di luar fiqih, tapi karena hal tersebut juga diajarkan oleh Rasulullah SAW. Jadi sikap kondisional tersebut, menurut mereka, tak lebih dari upaya mengamalkan sunnah juga. Seorang informan menuturkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Rasulullah pernah mempercepat sholatnya karena ada anak kecil yang menangis, padahal ibunya adalah salah seorang yang menjadi makmum nabi waktu itu. </span></em><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Rasulullah juga pernah sujud lama, karena Hasan dan Husen (cucu Rasul) sedang berada di atas punggung beliau. Jadi, Rasulullah pun sangat peka lingkungan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Dalam hal fiqih pun mereka bersikap tidak hitam putih. Mereka berprinsip, fiqih Islam memberikan ruang yang luas bagi perbedaan pendapat (<em>khilafiah</em>). Karenanya, perbedaan yang ada jangan sampai menimbulkan kemudaharatan. Dengan alasan mencegah kemudharatan itu pula lah, kadang mereka mengamalkan tata cara ibadah di luar mazhab yang mereka yakini. Salah seorang dari mereka menuturkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span><em>Islam itu indah, selalu mengedepankan harmoni. Karena itu, demi kemaslahatan kadang saya melakukan qunut di depan makmum yang terbiasa menggunakan qunut. Ini lebih baik, daripada menimbulkan polemik dalam masyarakat awam. Ada atau tidaknya qunut tak akan membatalkan sholat. Jadi, jangan sampai yang tidak prinsip justru mengorbankan yang prinsip.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Pastor di dalam Misa dan dalam Kehidupan Sosial</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dalam Islam, tak ada lembaga khusus yang mencetak pemimpin agama. Bahkan siapa pun ummat Islam sesungguhnya adalah da’i (penyeru) yang bertugas menyampaikan ajaran agamanya. Dia , tentu saja bisa juga menjadi pemimpin ritual keagamaan. Begitupula dalam agama lains eperti Kristen Protestan, tak ada persyaratan yang rumit untuk sekadar memberikan khotbah dalam gereja. Menjadi pendeta mamang tak serumit menjadi Pastor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Katolik termasuk agama yang sangat ketat dalam menentukan pemimpin agamanya. Untuk menjadi pastor misalnya, seorang umat katolik harus melewati rangkaian pendidikan yang rumit dan lama. Selama dua tahun dia harus mengikuti novisiat, empat tahun pendidikan filsafat, dua tahun orientasi kerasulan. Selain itu juga harus mengambil S2 teologi, setahun persiapan imamat, dan setahun imamat. Jadi, setidaknya butuh waktu 12 tahun untuk menjadi seorang pastor. Itu belum termasuk persyaratan berat yang harus dipenuhinya misalnya ketentuan tak boleh kawin selama menjadi pastor. Wajarlah kalau kemudian seorang pastor dalam katolik memiliki <em>privellege</em> tersendiri, baik secara teologis (misalnya memberi pengampunan dosa) , sosiologis (status sosial yang tinggi), maupun ekonomis (mendapat biaya hidup dari paroki). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dalam ritual sperti misa, memang penuh dengan simbol-simbol, tetapi peran pastor secara personal tidak begitu nampak. Karena rangkaian ritualnya sudah baku dan tema-tema misa pun telah ditentukan oleh komisi liturgi. Berikut gambaran rangkaian misa (ekaristi) yang biasanya dilakukan di gereja:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:45pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><br />
PEMBUKAAN<br />
Perarakan Masuk dengan lagu Pembukaan<br />
Tanda Salib<br />
Pemberian Salam dengan kata pembukaan<br />
Pernyataan Tobat dengan: “Tuhan kasihanilah kami”<br />
Madah Kemuliaan<br />
Doa Pembukaan</span></p>
<p>LITURGI SABDA<br />
Bacaan I (Perjanjian Lama)<br />
Mazmur Tanggapan<br />
Bacaan II (Perjanjian Baru)<br />
Alleluia dengan Bait pengatar Injil<br />
Bacaan Injil<br />
Aklamasi Sesudah Injil<br />
Homili<br />
Aku Percaya<br />
Doa Umat</p>
<p>LITURGI EKARISTI<br />
- Persembahan<br />
Mempersiapkan Persembahan (kolekte dan arak-arakan)<br />
Doa Persembahan<br />
- Doa Syukur Agung<br />
Dialog Pembukaan<br />
Prefasi dengan Kudus<br />
Doa Ekaristi (dengan Konsekrasi dan Anamnese)</p>
<p>- Komuni<br />
Doa Bapa Kami<br />
Embolisme<br />
Salam Damai<br />
Anak Domba Allah ( Hosti)<br />
Menyambut Komuni<br />
Saat Hening<br />
Syukur<br />
Doa sesudah Komuni</p>
<p>PENUTUP<br />
Pengumuman<br />
Doa Penutup<br />
Berkat &amp; Pengutusan</p>
<p style="line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"> </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Jadi, peran seorang pastor dalam memimpin misa sekadar mengikuti prosedur yang ada. Yang membedakan antara seorang pastor dengan pastor lain, mungkin pada gaya khotbahnya (homili), itu pun hanya berlangsung tak lebih dari 15 menit. Namun dalam rentang waktu itu sisi-sisi dramaturgis seorang pastor tetaplah kelihatan. Dengan minimnya peluang ‘improvisasi’ personal itu, sosok pastor dalam sebuah misa lebih menunjukkan peran sebagai pemegang ajaran Katolik yang teguh. Misa dibuat sedemikian kental nuansa ritualnya dengan rangkaian acara yang panjang, sehingga banyak jemaat yang tak hafal persis rangkaian acaranya. <span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di luar uniformitas ritual misa, sosok seorang pastor tetaplah menampakkan sisi-sisi personalnya, yang biasanya sedikit banyak dipengaruhi asal ordonya (misalnya SJ, OSC, OFM, dan lain-lain). Pastor dari ordo SJ (Serikat Jesuit) misalnya &#8211; yang memfokuskan aktivitasnya pada pendidikan dan sosial, akan cenderung menekankan khotbahnya pada persoalan sosial-politik kontemporer. Salah seorang pastor menuturkan:</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt .5in;"><em><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Tema memang ditentukan oleh komisi liturgy, tetapi pastor yang memberikan homili yang memberikan penekanan pada isu-isu relevan. Kalau saya dari ordo SJ, maka khotbah pun banyak yang saya arahkan pada persoalan pendidikan.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Jika jubah yang dipakai sama (umumnya putih atau ungu saat paskah), maka gaya rambut bisa membedakan antara satu pastor dengan yang lain. Ada seorang pastor di sebuah paroki yang berambut gondrong. Dia memang menekuni dunia kesenian, sehingga tampilannya pun bak seniman. Ketika memimpin misa, rambut gondrongnya tetap dibiarkan terurai (tidak diikat, sehingga lebiih rapi). Romo gondrong ini berprinsip gaya rambut tak akan menurunkan derajatnya sebagai seorang pastor. Dia menuturkan, “Hakikat seorang pastor adalah pelayanan, tak ada hubungannya dengan gaya rambut. Yesus sendiri <em>kan </em>gondrong, ha..haa..”</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Hal yang menarik justru sisi dramaturgis seorang pastor di luar gereja, ketika mereka berinteraksi secara normal dalam masyarakat. Susah mengidentifikasi seorang pastor ketika mereka berada di luar geraja. Selain pakaiannya sama dengan masyarakat, mereka pun tak mengenakan tanda khusus seperti salib. Ada sebuah kisah lucu dari seorang pastor. Waktu itu dia sedang berobat di salah satu rumah sakit milik yayasan Kristen di Jakarta. Dokter yang menanganinya tak tahu kalau pasien yang dihadapinya adalah seorang pastor. Maka dokter yang mengenakan tanda salib itu pun menceramahinya dengan beberapa ayat injil. Si pasien tetap bergeming sampai dia tak sabar dan kemudian berujar, “Maaf saya seorang pastor di sebuah paroki di Bandung.” Maka Sang Dokter pun diam dan segera menuliskan resepnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di tengah pergaulan dengan masyarakat, pastor banyak menampilkan sisi manusiawinya, misalnya dalam urusan hiburan. Beberapa pastor, di sela-sela aktivitasnya yang padat, kadang bermain PS (<em>Play Station</em>) untuk mengusir rasa jenuh. Banyak juga di antara mereka yang melewati acara makan-makan (di luar gereja) dengan bercanda, baik dengan jemaatnya (terutama yang sudah akrab) maupun dengan masyarakat lainnya, bahkan kadang canda tawa itu sampai ke tema-tema agak ‘jorok’. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Seorang pastor dari ordo SJ ketika mengisi seminar terkenal karena candanya yang selalu kocak. Hadirin hampir dipastikan selalu terpingkal-pingkal ketika mengikuti presentasinya. Sampai-sampai ada seorang yang nyeletuk, “Ini romo atau anggota srimulat.” Tentu saja ini berbeda dari suasan misa yang terlalu serius dan sakral. Dan pastor pun tak lagi berperan memimpin misa, tapi menjadi seminaris yang harus memikat bagi pendengarnya. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Bagi seorang pastor, ada tiga prinsip (<em>kaul</em>) yang harus dipegangnya yakni kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan. Karena alasan kemurnian itulah seorang pastor tak boleh kawin. Dengan prinsip kemiskinan itu, maka pastor harus menjaga jarak dengan urusan duniawi. Namun sisi-sisi manusiawi mereka kadang menampakkan fakta yang berbeda. Memang agak susah menelusuri harta kekayaan seorang pastor. Namun dari beberapa atribut yang dia pakai menunjukkan ‘penikmatan’ aspek duniawi. Ada beberapa pastor yang handphone-nya lebih dari satu dengan spesifikasi yang terbilang mewah. Meski dia berdalih pelayanan, agak aneh jika dia harus memilih HP yang berharga di atas Rp 3 juta itu. </span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Sebuah buku kumpulan kartun anekdot yang juga ditulis seorang pastor dari Semarang nampaknya bisa menjelaskan fenomena ini. Dalam salah satu gambarnya ditampilkan seorang seorang pastor yang mengendarai mobil mewah sambil matanya menoleh ke kanan-kekiri, khawatir kalau-kalau ada jemaat yang melihatnya. Pada gambar yang lain, nampak seorang pastor yang matanya berbinar penuh semangat ketika sedang mengantar rombongan jemaat yang terdiri dari ibu-ibu muda yang cantik dan seksi.</span></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Di sini, di luar gereja, adalah panggung lain bagi seorang pastor. Dia tak lagi memerankan sebagai seseorang yang memegang teguh ajaran, tapi seringkali berperan sebagai manusia biasa yang suka hiburan, sex, dan juga senang mengumpulkan materi. <span> </span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Kesimpulan</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV">Dalam paradigma definisi sosial, orang berperilaku sesuai dengan definisi yang dia buat berdasarkan realitas sosial yang dia hadapi. Dan menurut Goffman, tafsir atas situasi itu berlangsung terus menerus dalam kehidupan manusia. Sehingga, peran-peran yang ditampilkannya pun terus berubah. Diri (<em>self</em>) adalah produk dialektis, sebagai hasil interaksi dramatis antara aktor dan audien (Ritzer, 2003:298). Bagi Goffman, individu tak sekadar mengambil peran orang lain, melainkan tergantung pada orang lain untuk melengkapkan citra diri tersebut (Mulyana, 2004:110).</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span>Dalam konteks dramaturgi itulah kita bisa memahami perilaku para pemimpin ritual keagamaan. Jika dalam Islam imam sholat bisa tampil dalam berbagai tipe peran maka itu adalah hasil interaksi dramatis, yang tentu saja sangat personal sifatnya. Begitupula dengan fenomena pastor dengan berbagai perannya ketika di dalam dan di luar gereja. Suasana misa tentu saja berbeda dengan kondisi dalam seting kehidupan sehari-hari di luar gereja, sehingga akhirnya memunculkan efek dramatis yang berlainan pula pada sosok seorang pastor. </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Di sini peneliti tak mempersoalkan aspek-aspek normatif dari perilaku tokoh-tokoh keagaamaan tersebut. Selain karena tak memiliki otoritas untuk itu, sungguh amat bias jika aspek-aspek simbolik dijadikan parameter untuk menakar derajat religiusitas seseorang. Keberagamaan, kata Y.B. Mangunwijaya, berbeda dengan religiusitas.<span> </span>Orang memang beragama, kata Romo Mangun, tetapi belum tentu ia juga manusia religius (Intisari, 2002:45). Sehingga untuk dapat mengatakan secara khusus dan tepat mana orang yang religius dan mana yang tidak adalah sebuah permasalahan yang kompleks. Walaupun agama merupakan persoalan sosial, tetapi penghayatannya amat bersifat individual.</span></p>
<p style="text-align:center;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;" align="center"><span style="font-family:Verdana;">***</span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 0 .0001pt;"><strong><span style="font-family:Verdana;">Kepustakaan :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Littlejohn, Stephen W. 1996. <em>Theories of Human Communication</em>. Belmont, California: Wadsworth.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Mulyana, Deddy. 2004. <em>Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya</em>. Bandung: Remaja Rosdakarya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.5in;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-family:Verdana;">Ritzer, George et.al. 2004. <em>Teori Sosiologi Modern</em> (terj). </span><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Jakarta: Prenada Media.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;" lang="FI">Majalah Initisari, edisi Desember 2002</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=34&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2009/03/06/dramaturgi-pastor-dan-imam-sholat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis Feature</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2009/03/02/menulis-feature/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2009/03/02/menulis-feature/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 03:45:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisant.wordpress.com/2009/03/02/menulis-feature/</guid>
		<description><![CDATA[PERNAH membaca sebuah berita yang basi? Maksudnya, informasi yang kita terima dari berita itu bukanlah hal baru. Kita mungkin sudah mendengarnya dari radio, melihatnya di televisi atau membacanya di koran lain. Memang, aktualitas merupakan nilai berita yang penting.  Lalu, bagaimana dengan media yang terbit mingguan atau bahkan bulanan? Seperti media kampus yang terbit tiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=31&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>PERNAH membaca sebuah berita yang basi? Maksudnya, informasi yang kita terima dari berita itu bukanlah hal baru. Kita mungkin sudah mendengarnya dari radio, melihatnya di televisi atau membacanya di koran lain. Memang, aktualitas merupakan nilai berita yang penting.  Lalu, bagaimana dengan media yang terbit mingguan atau bahkan bulanan? Seperti media kampus yang terbit tiap semester (atau justru setahun sekali?). Jelas dong, bagi media seperti ini kalah dalam hal aktualitas. Pengelola media memang harus kreatif agar tak ditinggalkan pembaca. Kalau kita tak bisa menjual aktualitas, kenapa tak menonjolkan misalnya kedalaman berita atau gaya bahasanya? Di sinilah pengenalan terhadap feature akan membantu kita.<span id="more-31"></span> Banyak definisi feature, namun secara garis besar bisa dikatakan bahwa tulisan jenis feature memiliki ciri khas dalam gaya penuturan dan kedalaman informasi. Ada yang mengartikan feature sebagai berita dengan gaya bahasa yang menyastra. Ada pula yang mengatakan, jika kita bisa mengangkat informasi yang biasa menjadi berita yang luar biasa, maka itulah feature. Untuk lebih jelasnya, coba deh perhatikan penggalan berita berikut ini:</p>
<p><em>Hari ulang tahun mestinya disyukuri. Tapi tidak bagi Pak Karjo. Ulang tahunnya yang ke-41 telah mengubur cita-citanya menjadi PNS. Tukang kebun yang telah mengabdikan hampir separuh umurnya di SMU 202 itu tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Surat edaran pemerintah tentang pengangkatan calon pegawai negeri sipil (CPNS) sungguh menyesakkan dada lelaki dengan satu istri dan empat anak itu. Bagaimana tidak, di situ tertera aturan bahwa usia maksimal CPNS adalah 40 tahun…. </em></p>
<p>Dengan pendekatan human interest, berita di atas tidak mudah lapuk oleh aktualitas. Itulah kekuatan feature, mampu menyajikan informasi dengan cara yang khas. Secara teknis penulisan, prinsipnya sama dengan straightnews, misalnya tentang unsur dan nilai berita, atau tentang teknik menulis yang mudah dipahami.</p>
<p>Untuk menulis features, pola tulisan menjadi fleksibel. Kita bisa menggunakan pola piramida terbalik atau yang lain. Cuma ada beberapa penekanan yang perlu diperhatikan. Redaksi Majalah Tempo mengistilahkan sebagai ‘Empat Senjata” dalam penulisan feature:</p>
<p>a.	Fokus. Ini adalah langkah penentu, baik dalam penentuan cerita maupun dalam penulisannya. Maksudnya, ketika kita sudah menentukan sudut berita (angle)  misalnya, maka harus konsisten. Semua informasi yang kita tulisa harus sesuai atau mengarah pada angle yang telah dipilih. Fokus itu ibarat unting-unting (itu lho, tali berbandul timah untuk mengukur tegak lurusnya tiang, rata tidaknya tembok).  Fokus juga berarti kita tak tergoda dalam rimba kata-kata, tidak melebar ke sana kemari. Pilihlah kalimat yang benar-benar relevan dengan fokus berita!</p>
<p>b.	Deskripsi. Ini ada kaitannya dengan teknik menulis yang bercerita. Media cetak memang kalah dengan televisi yang memiliki kemampuan audio-visual sehingga bisa menyajikan informasi apa adanya. Namun, tulisan juga bisa menggambarkan suatu suasana atau peristiwa secara hidup, bahkan mungkin bisa lebih imajinatif ketimbang televisi.  Ada petunjuk untuk menulis deskriptif sebagai berikut:</p>
<p>1.	Ingat, bahwa kita sesungguhnya adalah mata, telinga, dan hidung pembaca. Dan tugas kita adalah mengumpulkan segala informasi yang bisa dicerna pembaca, sehingga menjadi gambar.</p>
<p>2.	Kehadiran kita sebagai reporter jangan mempengaruhi si subyek. Berbuatlah sehingga kita bisa mengamati subyek itu (misalnya seorang tokoh) dalam keadaan sewajarnya. 3.</p>
<p>Kumpulkan sebanyak-banyaknya catatan. Kemudian, sebelum menuls, saringlah mana yang kira-kira relevan.</p>
<p>4.	Dalam menulis, sebarkan deskripsi sepanjang cerita. Jangan dihimpun pada satu bagian, sehingga enak dibaca.</p>
<p>5.	ambillah jalan tengah antara terlalu banyak deskripsi  dan terlalu sedikt deskripsi.</p>
<p>c.	Anekdot. Ini berkenaan dengan hal-hal menarik atau lucu yang berhasil kita himpun saat reportase. Sisipkan anekdot, maka berita kita akan lebih menghibur.  Wartawan harus kreatif mengorek anekdot, terutama menyangkut tokoh. Kalau yang bersangkutan enggan bercerita, atau kita ingin mengorek lebih jauh, kita bisa menanyai orang-orang terdekatnya. Misalnya, kita ingin membuat profil kepala sekolah, kita bisa menanyai istrinya. Kita bisa bertanya, “Ibu, maaf, bisa diceritakan hal-hal lucu dari kehidupan Bapak?” Si Ibu barangkali akan bercerita banyak, bahkan dia dia bisa menceritakan kenangan indah masa lalunya bersama sang suami. d.	Kutipan. Kutipan langsung akan membuat tulisan menjadi variatif, tidak monoton. Berita juga akan menjadi lebih hidup dan ekspresif. Perhatikan paragraf berikut:</p>
<p><em> “Saya kadang sedih melihat sekolah ini,” ujar Kepala Sekolah pelan. Tatapannya tak lepas dari bangunan tua yang nyaris roboh di depannya. “Semoga pengganti saya bisa mencari bantuan dana untuk merehab gedung ini,” lanjut laki-laki berusia 65 tahun itu. </em></p>
<p>Bayangkan kalau paragraf di atas tak dilengkapi kutipan langsung. Akan terkesan monoton kan? Ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan untuk memutuskan akan mengutip langsung atau tidak:</p>
<p>1.	Apakah kutipan itu kata-katanya tidak berantakan, ringkas dan jelas? Bila jawabannya tidak, kita harus memakai kalimat tidak langsung.</p>
<p>2.	Apakah kutipan langsung itu akan memperkuat efek, memperjelas siapa yang bicara, atau menambah kesan sebagai pendapat dari orang yang memang layak dikutip? Bila iya, pakailah kalimat kutipan langsung. Dan sebelum kita mencoba menulis feature, perhatikan betul lead. Buatlah semenarik mungkin, sehingga pembaca tergoda untuk menikmati tulisan kita! 	Berdasarkan tipenya, features bias dibedakan menjadi:</p>
<p>1.	Features human interest (langsung sentuh keharuan, kegembiraan, simpati dan sebagainya). Misal, cerita tentang liku-liku guru di daerah terpencil.</p>
<p>2.	Features pribadi-pribadi menarik atau biografi. Misal, kisah tentang seseorang yang berprestasi atau memiliki keunikan dan bernilai berita tinggi.</p>
<p>3.	Features perjalanan. Kunjungan ke tempat-tempat menarik, yang memiliki nilai sejarah atau daya tarik tinggi. Dalam features jenis ini, biasanya unsur subyektivitas menonjol, karena seringkali penulisnya terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan tersebut. Di samping itu, dalam pemberitaannya juga menggunakan sudut pandang orang pertama yakni “aku”, “saya”, atau “kami”.</p>
<p>4.	Features sejarah, yaitu tulisan tentang peristiwa masa lalu. Misal, peristiwa Proklamasi kemerdekaan, atau peristiwa keagamaan dengan memunculkan “tafsir baru” sehingga tetap terasa aktual untuk masa kini.</p>
<p>5.	Features petunjuk praktis (tips), atau mengajarkan keahlian (how to do it). Misalnya tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah dan sebagainya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=31&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2009/03/02/menulis-feature/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yang Tegar di Atas Bukit</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2009/02/26/yang-tegar-di-atas-bukit/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2009/02/26/yang-tegar-di-atas-bukit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 16:37:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reportase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisant.wordpress.com/2009/02/26/yang-tegar-di-atas-bukit/</guid>
		<description><![CDATA[SUATU hari di tahun 1975, seorang lelaki berumur 32 tahun berdiri tegak di sebuah bukit. Pandangannya memutar, menerobos semak, jalan setapak, petak sawah, pepohonan sengon hingga jajaran pinus yang membentuk hamparan hijau di antara kaki gunung Palasari dan Manglayang. Beberapa rumah penduduk lebih nampak seperti gubuk. Sosok pemuda berbadan kekar itu mengalihkan tatapannya ke langit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=13&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-family:Verdana;">SUATU hari di tahun 1975, seorang lelaki berumur 32 tahun berdiri tegak di sebuah bukit. Pandangannya memutar,<span> </span>menerobos semak, jalan setapak, petak sawah, pepohonan sengon hingga jajaran pinus yang membentuk hamparan hijau di antara kaki gunung Palasari dan Manglayang. Beberapa rumah penduduk lebih nampak seperti gubuk. Sosok pemuda berbadan kekar itu mengalihkan tatapannya ke langit yang cerah sambil menengadahkan tangannnya, Dengan lirih dia berdoa, “Ya Allah, saya ingin bukit ini jadi tempat amal saya.”<span> <span id="more-13"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Lelaki muda itu bernama Yosis Yuswanto. Sosok yang tak akan dilupakan Warya Suwiryo, Ketua DPRa PKS Cipanjalu, Cilengkrang, Bandung. Dia bukan sekadar guru ngaji dan bela diri, tapi juga seorang bapak yang tak pernah lelah mengajarkan makna hidup. “Beliau yang merintis pendirian pesantren ini dengan segala pengorbanannya,” ujar Warya, satu-satunya santri generasi awal yang masih tinggal di pesantren Al Faridzi. Bapak dua anak itu pun kini menjadi satu-satunya ustadz pesantren yang berdiri di atas bukit Cipanjalu itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Cipanjalu memang bukan daerah terpencil seperti beberapa kawasan di luar Jawa. Ia berada di kaki selatan gunung Manglayang, yang bisa dijangkau dengan kendaraan kurang lebih 15 menit dari Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung. Tapi jangan bayangkan daerah ini seperti tetangganya, Ujung Berung, yang berkarakter metropolis. Kurang lebih 80 persen warga Cipanjalu hanya lulus SD atau tidak sekolah sama sekali. Sebanyak itu pula yang bermata pencaharian petani dan buruh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Secara ekonomi, kondisi masyarakat Cipanjalu memang memprihatinkan. Tahun 1996, terjadi krisis kelaparan di desa yang dihuni sekitar 3000 rumah tangga ini. “Tepatnya di Dusun Palintang. Mereka bergantung pada lahan milik Perhutani. Begitu ada larangan memanfaatkan lahan, terjadilah krisis pangan itu,” cerita Waryo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;"><span> </span>Kemiskinan seolah tak pernah lepas dari desa berbukit itu. Kemiskinan yang terus diwariskan dar generasi ke generasi. Sebuah ironi memang, karena ini bukan kawasan yang tidak subur. Sebagaimana kawasan pegunungan lainnya, berbagai tanaman industri bisa tumbuh. Di dusun Palipur misalnya, perkebunan Kina tumbuh dengan subur. “Palipur merupakan kawasan perkebunan Kina terbesar di Jawa Barat,” tambah Waryo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Kemiskinan memang dekat dengan kebodohan. Semangat generasi mudanya untuk sekolah rendah sekali. “Mereka berpikir, buat apa sekolah kalau akhirnya juga <em>ngarit</em> atau pergi ke sawah lagi.” </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:Verdana;">Waryo tahu persis kondisi masyarakat Cipanjalu. Bapak dua anak ini sudah menghabiskan waktu 18 tahun di desa ini, sejak di berguru pada H Yosis Yuswanto di padepokan silat Bandar Karimah yang menjadi cikal bakal pondok pesantren Al Faridzi. Pria kelahiran tahun 1975 ini tinggal di sebuah rumah sederhana,<span> </span>berdinding bilik, di sebelah pesantren, persis di pucuk bukit. “Jika Pak Haji Yosis di Bandung, kami lah satu-satunya yang tinggal di sini,” ujar dia. Karena keluarganya tinggal di Kota Bandung, gurunya itu paling tinggal 3 hari di pesantren dalam tiap minggunya.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:Verdana;">Hari-hari Waryo adalah pengabdian. Suami Yuyun Yulyani ini sebelum subuh harus sudah bangun, melawan gelap dan suhu 16 derajat celcius, untuk membangunkan warga. “Dengan pengumuman melalui speaker atau lantunan al-Qur’an, setidaknya warga tahu bahwa waktu subuh segera tiba.”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:Verdana;">Seusai memimpin jamaah sholat subuh dan tilawah Qur’an, Bapak dari Hasan dan Fatimah ini segera bergegas ke kebun untuk mengurus kebunnya. “Saya targetkan urusan kebun bisa selesai sampai duhur, karena usai duhur sering ngisi taklim di masyarakat,” tandas dia. Saat waktu ashar tiba, Ustadz Waryo—begitu dia biasa dipanggil masyarakat, harus kembali pesantren, karena para santri telah menunggunya untuk pelajaran al-Qur’an.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:Verdana;">Malam hari, terlebih di musim hujan, adalah ujian tersendiri bagi Waryo. Hampir tiap malam dia harus turun bukit untuk mengisi beberapa majelis taklim rutin atau permintaan pengajian oleh warga yang memiliki hajat. “Kalau kondisi hujan, kendaraan tak bisa lewat. Jalan tanah menjadi sangat licin seusai diguyur hujan.” Walhasil dia harus naik turun bukit dengan berjalan kaki. Seringkali senternya rusak, sehingga harus menembus malam dengan gelap yang pekat, di jalan yang salah satu sisinya adalah jurang yang curam. Hampir tengah malam dia baru pulang, menjumpai keluarganya yang sudah terlelap dalam mimpi. “Alhamdulillah, istri dan anak bisa memahami semua ini,” ujar dia.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:Verdana;">“Itulah yang sering membuat tidur saya tidak nyenyak, membayangkan ustdaz Waryo naik turun bukit sendirian hampir tiap malam,” ujar H Yosis, gurunya. Untuk berjumpa dengan kader PKS lainnya tiap pekan, Wiryo juga sudah terbiasa jalan kaki, melewati jalan setapak, menuruni lembah di desa sebelah. “Kalau perginya enak, turun terus. Nah gantian, pulangnya jalanan naik terus hingga hapir satu jam nyampai rumah.”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span style="font-family:Verdana;">Waryo memang ustadz yang ‘laris’, banyak mengisi berbagai acara di masyarakat, tapi jangan bayangkan seperti mubaligh di daerah perkotaan yang berkecukupan karena menerima ‘amplop’ dari sana-sini. Dia tak pernah mau menerima uang sepeser pun seusai acara, karena selalu ingat pesan gurunya, “Kalau kamu terima amplop, maka selesai sudah dakwah.” Waryo bertekad untuk tidak menjadikan aktivitas dakwah sebagai sumber penghasilan. “Kami berpendirian, itu semua adalah tabungan untuk akhirat. Untuk makan, cukuplah dari kebun,” papar dia.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span> </span>Kemandirian ekonomi memang pelajaran tersendiri yang diterima Waryo dari gurunya. Petuah H Yosis, “Jadilah kaya sebelum berdakwah.” Kaya tak berarti harus menunggu bergelimanng uang untuk kemudian baru berjuang. “Kaya berarti kemandirian ekonomi, kita bisa mencukupi kebutuhan dasar hidup kita, sehingga tidak menggantungkan hidup dari dakwah yang kita jalani.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"><span> </span>Setelah sekian lama mendampingi warga untuk mengenal agama tak berarti tantangan kian ringan. “Sejak pesantren berdiri tahun 1988 hingga kini, belum banyak yang berubah dari masyarakat. Mungkin masih ada 50 persen warga yang untuk sholat wajib saja masih susah.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Masyarakat Cipanjalu selama ini memang di kenal jauh dari agama. Secara budaya, mereka masih dalam kawasan Ujung Berung. “Berung itu artinya buruk. Jadi sejarahnya, Ujung Berung itu berarti puncaknya perangai yang buruk,” terang Waryo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Pesantren tak pernah memungut bayaran dari para santri. Semua biaya operasional ditanggung H. Yosis. “Bahkan dulu ketika perekonomian Pak Haji bagus, para santri justru dibayar.” Tetapi H. Yosis tak merasa bergelimang uang. “Ini keajaiban dari Allah. Keajaiban diberikan Allah kepada orang yang percaya keajaiban.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">H. Yosis mengaku, rezeki Allah tak pernah berhenti. “Cacing saja yang tidak ngantor bisa hidup, kok,” tandasnya. “Kaidah rezeki itu tidak matematis. Hasil tak mesti menggambarkan proses. Inilah yang saya sebut keajaiban.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Waryo mencoba untuk tegar mengemban amanah dakwah. Tidak ingin berpindah lokasi, mencari medan dakwah yang lebih mudah? “Kalau dalam lintasan pikiran memang pernah ada, karena banyak juga tawaran kerja di kota. Belum lagi permintaan keluarga. Di Sumedang, tempat kelahiran saya, ada tanah yang cukup luas. Saya diminta mengeolanya.” Tetapi, sang ustadz punya pandangan berbeda. “Ini adalah tugas. Seperti di medan perang, haram hukumnya untuk mundur,” tandas dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Pelajaran kegigihan gurunya pula lah yang terus menyalakan semangatnya untuk tinggal di atas bukit, berhalaman rumput setinggi 30 cm. Seperti dituturkan sendiri oleh H Yosis, masa-masa sulit adalah bagian tak terpisahkan dari pondok pesantren al-Faridzi. Berawal dari keinginan mengamalkan ilmu beladiri, H.Yosis kemudian berpikir untuk merintis sebuah pesantren. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Tahun 1977, menjelang pemilu, H. Yosis berkisah, bersama beberapa teman, mereka mendirikan sholat Jumat di sebuah rumah kosong. “Ada warga yang mengintip, mereka menyatakan ingin sholat juga. Padahal waktu itu sholat Jumat darurat, karena jauh dari masjid.” Tapi peristiwa itu justru menyadarkan H.Yosis bahwa warga butuh fasilitas agama dan perlu bimbingan keagamaan. Sholat Jumat di rumah itu berlanjut, sampai kemudian berhadapan dengan kebijakan aparat setempat. “Kami dianggap membawa agama baru. Bahkan lurah waktu itu menuduh kami orang PKI,” kenang dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Masa-masa menjelang pemilu di zaman Orde Baru waktu itu memang penuh fitnah. H. Yosis berkali-kali harus berurusan dengan aparat. Dia tak kurang akal. Agar dakwah terus berlanjut, digelarlah penataran P4 di tempat itu. “Dan ajaibnya, sejak itu kita tak punya masalah dengan aparat,” kenangnya sambil tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Ujian lain adalah tanggapan warga yang dingin, bahkan terkesan melecehkan. “Saya masih ingat sewaktu menjadi santri dulu. Ketika kita kumandangan adzan, warga tak hanya cuek, tapi juga mengolok-olok,” tambah Waryo. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Jika batu saja bisa berlobang karena air, apalagi hati masyarakat. Mereka mulai tergerak. “Warga mulai memperbolehkan anak-anaknya untuk nyantri ke sini, sampai jumlahnya lebih dari seratus waktu itu,” ujar H. Yosis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;">Tapi ujian itu kembali datang. Seperti biasa, setiap hari minggu santri pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dasar anak-anak, mereka tak bisa menahan dirinya untuk bermain-main di hutan di lereng gunung. Salah seorang dari mereka berayun di akar gantung sebuah pohon layaknya Tarzan. Dia jatuh dan tulang rusuknya patah. “Oleh orang tuanya kemudian dibawa ke ahli tulang yang ternyata adalah seorang dukun.” Dukun itu menuturkan, anak itu adalah tumbal pertama pesantren. “Kata dukun itu, dua orang lagi dibutuhkan sebagai tumbal. Sejak saat itu, tak ada warga yang berani menitipkan anaknya ke pesantren.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;"><span> </span>Syukurlah, lama-kelamaan masyarakat melupakan tragedi itu dan kini beberapa dari mereka sudah mengijinkan anaknya untuk kembali ke pesantren. “Memang jumlahnya tak sebanyak dulu. Jumlah mereka kini tak sampai 30 anak,” kata Waryo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=13&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2009/02/26/yang-tegar-di-atas-bukit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jurnalisme Nurani</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2008/02/26/jurnalisme-nurani/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2008/02/26/jurnalisme-nurani/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 08:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalisme nurani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisant.wordpress.com/2008/02/26/jurnalisme-nurani/</guid>
		<description><![CDATA[DALAM khasanah jurnalisme, memang tidak ada rumusan yang baku tentang apa itu jurnalisme nurani. Istilah ini kemudian dimaknai secara kontekstual dan partikular. Jean Lacouture (1990) misalnya, menyebut nurani sebagai nilai dasar yang melekat pada setiap manusia, sehingga seorang jurnalis sesungguhnya adalah mahluk nurani. Dia menandaskan, “The journalist is a creature with a conscience that no [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=11&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if !mso]&gt;--><span style="font-family:Verdana;">DALAM khasanah jurnalisme, memang tidak ada rumusan yang baku tentang apa itu jurnalisme nurani. Istilah ini kemudian dimaknai secara kontekstual dan partikular. Jean Lacouture (1990) misalnya, menyebut nurani sebagai nilai dasar yang melekat pada setiap manusia, sehingga seorang jurnalis sesungguhnya adalah mahluk nurani. </span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Dia menandaskan, “<em>The journalist is a creature with a conscience that no press baron, no dominant ideology, no group complicity can ever completely suppress. <!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span id="more-11"></span><!--[endif]--></em></span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;"><span style="font-family:Verdana;">Kovack dan Tom Rosentiel, dalam bukunya “Sembilan Elemen Jurnalime”, memasukkan prinsip “kewajiban terhadap nurani” sebagai elemen kesembilan dari jurnalisme. Pengertian nurani, menurut kedua jurnalis senior itu, adalah sesuatu yang dipercayai oleh jurnalis. Sebagian besar jurnalis yang diwawancarai Kovack dan Rosentiel sepakat bahwa jurnalisme adalah sebuah tindakan moral. Para jurnalis itu sadar bahwa semua latar belakang dan nilai yang mereka miliki bisa mengarahkan pada apa yang akan mereka kerjakan dan atau tidak kerjakan dalam membuat berita.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;"> </span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Komitmen nurani lebih dari sekadar kaidah dasar jurnalisme. Seperti dikatakan Linda Foley, presiden Newspaper Gulid, kemampuan jurnalis untuk mengikuti nurani jauh lebih penting daripada apapun yang mereka percayai atau keyakinan apapun yang mereka bawa ke dalam pekerjaan mereka. Kredibilitas lebih penting daripada objektivitas.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;"> Fred Inglis mendefinisikan jurnalisme nurani secara lebih spesifik, yakni komitmen moral dalam praktik jurnalisme. Menurut pengajar Yale University ini, jurnalisme nurani adalah jurnalisme yang baik, yakni jurnalisme yang menjunjung nilai-nilai kebenaran, dapat dipercaya dalam mengungkap fakta, dan memberikan ruang bagi kesaksian khalayak.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Jurnalis senior Jerry Mitchell mengatakan bahwa kehadiran jurnalisme nurani adalah kebutuhan yang mendesak saat ini, ketika muncul kecenderungan banalitas jurnalisme. Khalayak lebih banyak dijejali dengan informasi sampah dari obrolan, talk show murahan, atau berita hiburan. </span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Mitchell menandaskan, “<em>It is Time for a journalism that perseveres in spite of hostile forces. It is Time for a journalism that believes in doing the right thing. It is Time for a journalism that desires to help the undesirable. It is Time for a journalism that never forgets the forgotten. It is Time for a journalism that cares.Call it conscience journalism, if you like &#8230;</em></span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;"><em> </em></span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Jurnalisme nurani, kata Mitchell, mengabdikan dirinya untuk kebenaran. </span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Jurnalisme nurani akan meluruskan kesalahan-kesalahan manusia saat ini maupun masa lalu. Jurnalisme nurani merupakan terobosan untuk melakukan perubahan konstruktif, sehingga jurnalis akan menemukan peran-peran idealnya.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Sementara itu dalam seminar bertajuk “<em>The Conscience of the Journalist: Individual Responsibility in the Media”</em>, Januari 2001 di London, para praktisi media yang menjadi pembicara dalam acara tersebut menyepakati bahwa inti dari nurani seorang jurnalis adalah pertanggungjawaban. Dengan segala fungsi ideal yang diembannya, seorang jurnalis pada akhirnya akan dihadapkan pada sebuah pertanyaan etis: Sudahkah ia bisa mempertanggungjawabkan kerja jurnalisme berdasarkan kaidah-kaidah moral yang diyakininya?</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Seperti Gunawan Muhammad yang mengatakan bahwa jurnalisme sesungguhnya adalah laku moral, John Sweeny dari The <em>Observer</em>—salah seorang pembicara dalam seminar tersebut mengatakan bahwa jurnalis adalah profesi moral (<em>moral profession</em>). </span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Jurnalis tak bisa lepas dari aspek moral, karena, <em>“it is a job where you have to make people care about things,” </em>kata Sweeney. Rush Kidder dari <em>Sunday Time</em> pun menegasakan hal serupa, karena peran redaktur sangat strategis yakni: <em>to find out what people need to know, and then to make them want to know it</em>.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Dalam praktiknya, jurnalisme nurani terkait erat dengan komitmen jurnalis pada etika. Karena itulah, menurut Kidder, jurnalisme nurani akan bisa direalisasikan ketika pers tak semata-mata menggunakan bahasa ekonomi dan politik, tetapi juga yang lebih utama adalah menggunakan bahasa etis, yakni bahasa yang menyinggung nilai-nilai, tentang perilaku baik dan buruk.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Jurnalisme nurani juga sering dimaknai secara praktis, menjadi semacam prosedur jurnalisme. Jurnalis Sinar Harapan, Murizal Hamzah misalnya, mengintroduksi istilah jurnalisme nurani sebagai gambaran prinsip yang dia pegang selama menliput konlik TNI-GAM di Aceh. Menurut Hamzah, jurnalis yang meliput berita di area konflik hendaknya hendaknya yakin pada instingnya, memiliki sensitifitas budaya, dan pengetahuan umum.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Perspektif praktis tentang jurnalisme nurani juga dinyatakan oleh jurnalis senior James Kelly. </span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Menurut Redaktur Pelaksana majalah <em>Time</em> ini, jurnalisme nurani lebih menggambarkan perhatian media pada isu-isu kemanusiaan. Dia memberikan contoh majalah <em>Time</em> yang selalu peduli pada isu-isu kemanusiaan global, seperti HIV, genosida, atau pemanasan global.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Masing-masing pihak punya definisi yang berbeda tentang jurnalisme nurani. Dalam wacana ilmu sosial memang tak ada yang tunggal, sebagaimana para jurnalis juga tak ada kata sepakat tentang apa itu berita.</span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;"> </span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Meskipun terdapat banyak definisi, ada benang merah yang menghubungkan berbagai pendapat tentang jurnalisme nurani, yakni keyakinan jurnalis. Keyakinan di sini berarti apa yang dipercayai oleh jurnalis untuk dilakukan dalam proses kerjanya, bisa berdasarkan nilai-nilai agama yang diyakininya atau nilai-nilai umum yang dipahami manusia. Keyakinan juga merujuk pada hakikat kebenaran yang dipahami jurnalis. Bagi <em>Tarbawi</em> misalnya, kebenaran itu bermakna apa yang telah digariskan kitab suci. Bagi media lain, kebenaran bisa bermakna nilai-nilai yang disepakati oleh mayoritas manusia. </span><span style="font-family:'Book Antiqua',serif;">Hakikat benar salah dalam batas-batas tertentu memiliki ruang yang bisa dipahami bersama dalam masyarakat. Tentang tindak kejahatan misalnya, entah berupa pembunuhan, penipuan, perampokan, pemerkosaan, atau penyalahgunaan wewenang, bisa dipastikan semua masyarakat sepakat menggolongkannya sebagai perbuatan yang salah. Sebaliknya, mereka juga akan sepakat bahwa kejujuran, keadilan, atau kepahlawanan adalah nilai-nilai positif yang harus dijunjung tinggi. Ketika majalah <em>Time</em> memberikan meggambarkan jurnalisme nurani sebagai komitmen media pada isu kemanusiaan, tentu didasarkan pada keyakinan masyarakat global bahwa ada masalah kemanusiaan yang harus ditanggulangi bersama, misalnya penderitaan karena penyakit atau kekerasan pihak lain. Nilai-nilai yang dijunjung adalah kebersamaan, kepedulian, atau kesetiakawanan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Verdana;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edisant.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edisant.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=11&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2008/02/26/jurnalisme-nurani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Silaturahmi</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2008/02/26/silaturahmi/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2008/02/26/silaturahmi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Feb 2008 07:46:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edisant.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Blog sebenarnya telah saya kenal sekian tahun lalu, khususnya ketika masih bekerja di sebuah perusahaan media online. Memang, waktu itu blog belum populer, fasilitas yang ditawarkan secara cuma-cuma pun relatif terbatas. Saya pun tak terlalu tertarik. Buat apa blog? Kok narsis amat sih, begitu dulu saya berpikir. Tapi nampaknya ramalan McLuhan benar, dunia semakin datar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=9&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Blog sebenarnya telah saya kenal sekian tahun lalu, khususnya ketika masih bekerja di sebuah perusahaan media online. Memang, waktu itu blog belum populer, fasilitas yang ditawarkan secara cuma-cuma pun relatif terbatas. Saya pun tak terlalu tertarik. Buat apa blog? Kok narsis amat sih, begitu dulu saya berpikir. Tapi nampaknya ramalan McLuhan benar, dunia semakin datar dan tak berbatas (<em>borderless</em>). Dunia virtual lah akarnya. Laju pemakaian internet tak terbendung. Biaya akses semakin murah. Ide kampung virtual kini bukan mimpi, bahkan bisa jadi nanti semakin sulit dibedakan mana dunia nyata dan dunia maya. Walhasil, dunia maya adalah realitas yang tak bisa dipungkiri. Berbagai keperluan manusia kini diselesaikan secara online. Sahabat saya, di perumahan sebelah, kini memiliki RT-RW net. Mereka ngobrol, meskipun rumahnya berdekatan, tak lagi di bawah pohon waru (seperti waktu kecil dulu), tetapi melaui chating. Maka popularitas blog adalah cerita lain tentang fenomena maya yang kini menjadi nyata. Gak punya blog gak gaul, kata mahasiswa. Benar juga, siapa sih yang kenal kita? Paling sebatas relasi yang pernah kontak fisik. Tanpa harus berangkat dari semangat narsis, menjadi lebih dikenal dan mengenal, bukankah itu realisasi prinsip silaturahmi (yang dianjurkan agama)? Dalam konteks inilah saya berikhtiar, semoga blog sederhana ini menjadi media silaturahmi.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edisant.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edisant.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=9&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2008/02/26/silaturahmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://edisant.wordpress.com/2008/01/26/hello-world/</link>
		<comments>http://edisant.wordpress.com/2008/01/26/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jan 2008 03:37:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edisant</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=1&subd=edisant&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/edisant.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/edisant.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/edisant.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/edisant.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/edisant.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/edisant.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/edisant.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/edisant.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/edisant.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/edisant.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/edisant.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/edisant.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=edisant.wordpress.com&blog=2621414&post=1&subd=edisant&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edisant.wordpress.com/2008/01/26/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/ded3cd70c72fbd9c7ec73312890130e2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">edisant</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>