Sekilas Jurnalisme March 11, 2009
Posted by edisant in Jurnalisme.trackback
JURNALISTIK atau jurnalisme berasal dari kata journal, artinya catatan harian, atau catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti surat kabar. Journal berasal dari bahasa Latin diurnalis, artinya harian atau tiap hari. Dari istilah inilah kemudian lahir kata jurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik Kusumaningrat, 2005:15). Istilah jurnalisme dan jurnalistik pada dasarnya bermakna sama. Jurnalisme mengacu kepada istilah yang biasa dipakai di Amerika Serikat (journalism), sementara jurnalistik (journalistic) mengacu ke Eropa. Menurut Romli (2000), istilah jurnalime dapat ditinjau dari tiga sudut pandang: harfiyah, konseptual, dan praktis. Secara harfiyah, jurnalisme artinya kewartawanan atau hal-ihwal pemberitaan. Secara konseptual, jurnalisme dapat dipahami dari tiga sudut pandang yaitu sebagai proses, teknik, dan ilmu. Sebagai proses, jurnalisme adalah “aktivitas” mencari, mengolah, menulis, dan menyebarluaskan informasi kepada publik melalui media massa. Aktivitas ini dilakukan oleh wartawan (jurnalis). Sebagai teknik, jurnalisme adalah “keahlian” (expertise) atau “keterampilan” (skill) menulis karya jurnalistik (berita, artikel, feature) termasuk keahlian dalam pengumpulan bahan penulisan seperti peliputan peristiwa (reportase) dan wawancara. Sebagai ilmu, jurnalisme adalah “bidang kajian” mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi (peristiwa, opini, pemikiran, ide) melalui media massa. Jurnalisme termasuk ilmu terapan (applied science) yang dinamis dan terus berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan dinamika masyarakat itu sendiri. Sebaga ilmu, jurnalistme termasuk dalam bidang kajian ilmu komunikasi, yakni ilmu yang mengkaji proses penyampaian pesan, gagasan, pemikiran, atau informasi kepada orang lain dengan maksud memberitahu, mempengaruhi, atau memberikan kejelasan. Secara praktis, jurnalistik adalah proses pembuatan informasi atau berita (news processing) dan penyebarluasannya melalui media massa. Mc Dougall mengartikan jurnalisme sebagai kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa (Kusumaningrat, 2005:15). Sementara Adinegoro mengartikannya sebagai kepandaian mengarang yang pokoknya memberi pengertian dan perkabaran kepada masyarakat dengan selekas-lekasnya agar tersiar seluas-luasnya (Yuliana, 1998:5). Sejarah jurnalisme dimulai sekitar 3000 tahun yang lalu, ketika Fir’aun di Mesir, Amenhotep III, mengirimkan ratusan pesan kepada para perwiranya di provinsi-provinsi untuk memberitahukan apa yang terjadi di ibu kota. Kemudian di Athena, 2000 tahun yang lalu, Acta Diurna yang berisi kebijakan senat, peraturan pemerintah, berita kelahiran dan kematian, ditempelkan di tempat-tempat umum (Kusumaningrat, 2005:16). Jurnalisme berkembang pesat sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johann Gutenberg, tahun 1450. Mesin dengan logam yang dapat digerakkan itu konon terinspirasi dari teknik memeras anggur di tanah kelahirannya, Rhineland. Piranti ini menandai awal masifikasi bahan cetakan. Pada tahun 1500, percetakan telah didirikan di lebih dari 250 tempat di Eropa. Pada waku itu, percetakan telah menghasilkan lebih dari 27.000 judul buku. Jika diasumsikan tiap judul buku dicetak sebanyak 500 eksemplar, maka kira-kira 13 juta buku telah beredar di Eropa yang berpenduduk 100 juta orang. Ledakan informasi tak bisa dihindari. Pada abad pertengahan, masalahnya adalah kurangnya buku. Pada abad ke-16, masalahnya menjadi: kelebihan jumlah buku. Seorang penulis Italia mengeluh, pada tahun 1550 telah tersedia demikian banyak buku sehingga kita kita punya waktu lagi , bahkan sekadar untuk membaca judulnya saja (Brigs dan Burke, 2006:22) . Orang pun banyak memberikan perhatian pada media (jurnalisme), terutama dengan terbitnya surat kabar yang kian marak pada abad ke-17. Surat kabar pertama yang terbit di Eropa secara teratur adalah Aviso dan Relation (Jerman). Setelah itu terbit juga di Belanda (1618), Perancis (1620), Inggris (1620), dan Italia (1636). Masa-masa sesudahnya, kehadiran koran dan majalah kian tak terbendung. Di Inggris saja, pada tahun 1792, diperkirakan 15 juta surat kabar telah terjual (Emery dan Smythe, 1989:112). Terkait dengan sejarah jurnalisme ini, ada sedikit perbedaan di antara para pakar. Misalnya Warren G. Bovee, berpendapat jurnalisme lahir semenjak munculnya surat kabar. Alasannya, jurnalisme merujuk pada aktivitas jurnalis, sedangkan jurnalis baru ada setelah munculnya surat kabar. Adapun berbagai media komunikasi sebelumnya seperti Acta Diurna belum bisa dikatakan sebagai surat kabar (Bovee, 1999:22). Bagi wartawan senior Kompas, Luwi Ishwara, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan teknis, tapi lebih merupakan pedoman hidup (the way of life). Seorang wartawan tak akan menanggalkan profesinya setelah jam 5 sore (setelah deadline). Karena setiap saat dia dituntut untuk selalu mencari gagasan baru (Iswara, 1998).



Comments»
No comments yet — be the first.