Dramaturgi Pastor dan Imam Sholat March 6, 2009
Posted by edisant in Riset.trackback
“Kamu tak akan pernah menjadi religius ketika kamu tak pernah merasakan kesendirian,” kata orang bijak. Memang, kesendirian bisa menjadi indikator religiusitas seseorang. Dalam kesendirian, kesadaran akan eksistensi Tuhan yang lebih menentukan, tak ada lagi motif-motif karena orang lain. Sementara itu, kesalehan dalam ruang publik sungguh susah menilai ketulusannya. Ada seribu motif ketika seseorang melakukan ibadah di tengah-tengah komunitas sosialnya.
Namun, ritual keagamaan memang tak selalu dipraktikkan secara individual (dalam kesendirian). Bahkan, beberapa di antaranya mengharuskan kesertaan banyak orang (dalam ruang publik). Misalnya dalam Islam, ada sholat berjamaah yang mengharuskan kesertaan orang lain (sholat Jumat, sholat Ied). Dalam Katolik terdapat misa yang dilakukan secara bersama-sama dengan tata cara tertentu, begitu pun dengan Kristen Protestan dengan kebaktiannya.
Dalam ruang sosial, praktik-praktik ritual tersebut sejatinya tak berbeda dengan perilaku sosial lainnya, terutama dalam hal proses, interaksi, dan makna-makna subyektif. Maka dalam interaksi yang terjadi misalnya, aksi ritual keagamaan seseorang tetap dalam frame “ketertiban interaksi” untuk memenuhi “keutuhan diri”. Dan untuk menjada citra diri ini, kata Goffman, seseorang akan selalu melakukan pertunjukan (performance) di hadapan khalayak. Kaum dramaturgis memandang manusia sebagai aktor-aktor di atas panggung metaforis yang sedang memainkan peran-peran mereka (Gronbeck dalam Littlejohn, 1996:166).
Makalah ini mencoba menampilkan praktik teatrikal tersebut dalam ritual keagamaan. Penelitian difokuskan pada dua agama, yakni Islam dan Katolik. Pada Islam, peneliti mengambil contoh sholat berjamaah dan dalam Katolik, akan ditampilkan praktik misa dan kehidupan para pastor di luar misa. Sebagai informan penelitian dipilih sepuluh orang yang biasa menjadi imam sholat dan lima orang pastor. Selain dengan wawancara, peneliti juga melakukan observasi dengan mengamati perilaku informan, terutama untuk melihat panggung belakang (back stage) mereka.
Ketika Menjadi Imam
Dalam Islam, untuk menjadi pemimpin salah satu ritual keagamaan memang tak serumit seperti di agama lain seperti Katolik. Untuk menjadi imam sholat misalnya, siapa pun bisa (asal bisa bacaan sholat, tentu saja). Memang ada prioritas bagi mereka yang memenuhi beberapa kriteria, misalnya bacaan Al-Qur’annya paling baik, paling mengerti sunnah, yang paling tua usianya dan lain sebagainya (HR.Muslim). Namun dalam praktiknya kriteria ini sering diabaikan. Ketentuan yang paling baik bacaan Al-Qur’annya misalnya sebagai kriteria paling penting, seringkali dibaikan dan masyarakat kadang lebih mempertimbangkan faktor usia dan ketokohan.
Jadi, menjadi seorang imam sholat merupakan sebuah kehormatan tersendiri. Jika sholat berjamaah merupakan sebuah miniatur masyarakat, maka seorang imam adalah ibarat pemimpin bagi masyarakatnya. Dia telah diberi mandat oleh makmum untuk memimpin jalnnnya sholat dari awal hingga akhir. Peran sebagai pemimpin inilah yang akhirnya tak bisa dihindari oleh seorang pemimpin. Maka dengan segala otoritas yang dia miliki, model kepemimpinan seperti apa yang akan ditampilkan akan kembali pada konsep diri (self) sang imam. Maka perbedaan tipikal imam akan berangkat dari pembacaan atas situasi yang berlainan di antara mereka.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam, peneliti menemukan beberapa tipe imam:
Pertama, imam afirmatif. Dalam kategori ini, seorang gaya seorang imam lebih merupakan afirmasi keinginan jamaah (makmum). Mereka berprinsip, “saya ditunjuk oleh jamaah, maka saya tak boleh mengecewakan mereka.” Karenanya, gaya memimpin sholatnya sangat kondisional, baik dalam lamanya waktu sholat maupun pilihan ayat yang dibacakan. Seperti yang diutarakan oleh seorang informan:
Sebagai imam saya harus peka bagaimana kondisi jamaah. Jika yang datang lebih banyak orang-orang tua, saya akan pilih surat yang pendek-pendek. Kasihan mereka (kalau sholatnya terlalu lama). Atau pas sholat Isya, sementara banyak yang belum pulang ke rumah sejak Maghrib, saya akan pilih surat-surat pendek.
Di sini, seorang imam juga dituntut untuk membaca selera jamaah, yang barangkali berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Seorang informan yang kebetulan sering menjadi imam di beberapa tempat yang berbeda mengaku selalu menyesuaikan dengan karakter jamaahnya. Dia mengatakan:
Kalau menjadi imam di kampus, yang hadir kebanyakan mahasiswa. Biasanya mereka suka bacaan surat yang agak panjang. Tetapi di kampung, surat pendek seperti Qulhu (surat Al-Ikhlas), An-nas, itu udah biasa (dibaca).
Dalam berpakaian, mereka juga selalu menyesuaikan. Simbol-simbol seorang imam seperti sarung, peci, sajadah, baju koko, atau tasbih perlu diperhatikan. Ketika berada di masjid yang bertipikal tradisional, misalnya di masjid-masjid NU (Nahdlatul Ulama), mereka berupaya agar simbol-simbol itu dipakai. “Tapi kalau di masjid ber-fiqih Muhammadiyah atau Persis, hal itu tak menjadi penting,” katanya.
Saking kompromisnya, imam afirmatif pun bisa lintas fiqih, demi memuaskan keinginan makmum. Seorang informan mengaku biasanya menggunakan fiqih ala Muhammadiyah, seperti tidak qunut dalam sholat subuh atau tidak mengeraskan (sirr) dzikir sesudah solat. Namun, ketika menjadi imam di masjid berfiqih NU, dia menyesuaikan. Dia berdalih, kaidah fiqih itu fleksibel, terutama dalam hal-hal yang menjadi khilafiah (perbedaan pendapat) di antara para ulama. Dia mengungkapkan:
Bagi saya, qunut itu bukanlah hal yang prinsip. Ini kan khilafiyah, sehingga kadang saya lakukan juga demi kemaslahatan bersama.
Kedua, imam narsis. Saya gunakan istilah narsis, karena imam dalam kategori ini adalah mereka yang cenderung bersikap untuk kesenangannya sendiri, termasuk menunjukkan keunggulan dan kehebatannya dalam memimpin sholat jamaah. Bagi mereka, memimpin sholat berarti kesempatan untuk menunjukkan kehebatan dirinya, baik dalam hal jumlah hafalan ayat maupun gaya bacaan yang memikat. Seorang informan yang kebetulan juga seorang qarie’ (pelafadz Al-Qur’an dengan indah) menuturkan:
Nggak tau lah, apakah ini riya atau tidak, sewaktu mengimami sholat saya merasa dituntut untuk membawakan bacaan ayat dengan indah. Saya bisa dibilang seorang qarie’ nasional, jadi bacaan (ayatnya) harus bagus. Bisa dibilang, ini soal reputasi.
Informan lain mengaku ada kepuasan tersendiri ketika dia bisa membaca ayat-ayat panjang, seolah dia bisa membuktikan pada orang lain bahwa dirinya penghafal Al-Qur’an yang handal. Dia menuturkan:
Gimana ya…saya kan pengurus DKM (Dewan Keluarga Masjid), malu dong kalau bacaannya qulhu melulu. Saya paksakan untuk hafal beberapa penggal surat Al-Baqarah dan surat-surat lainnya.
Dalam berbusana, mereka cenderung memakai pakaian yang sesuai. Citra diri, bagi mereka, adalah hal penting yang tak bisa diabaikan. Dalam beberapa kasus mereka menolak menjadi imam karena sedang memakai kaos atau tidak memakai peci. Seorang informan menuturkan:
Saya merasa gak enak saja, masak jadi imam pakaiannya gak pantas. Yang di depan kan mestinya yang paling rapi dan bagus pakaiannya.
Tentang fiqih, mereka agak ketat. Berbeda dengan imam afirmatif, mereka mengangap fiqih adalah soal keyakinan pribadi yang harus dipegang teguh. Informan mengatakan:
Ketika saya biasa menggunakan qunut, ya makmum harus mengikuti, tak peduli di masjid mana. Ini kan soal keyakinan. Dan saya kira makmum juga akan mengerti.
Ketiga, imam egois. Berbeda dengan kategori imam narsis, mereka yang termasuk di sini tak berpretensi untuk menunjukkan kehebatan dan keunggulan (kualitas) dirinya saat menjadi imam sholat. Bahwa mereka cenderung abai terhadap realitas jamaah dikarenakan oleh kepentingan-kepentingan pribadi yang biasanya bersifat kondisional. Mereka biasanya bertipikal cuek, mengikuti selera individualnya. Surat yang dipilih, panjang pendekanya sholat, pakaian yang dipakai, mengikuti apa yang dia butuhkan saat itu. Ketika memilih bacaan ayat, informan mengaku tak terlalu menghiraukan apa yang diinginkan jamaah, tetapi lebih pada mood dirinya sendiri. “Ketika pingin baca ayat-ayat panjang, ya baca yang panjang. Tapi kalau lagi gak mood, baca yang pendek-pendek aja. Apa kata hati aja lah..,” kata dia. Jadi, yang lebih mereka pertimbangkan adalah kepentingan mereka. Prinsipnya, “jamaah adalah jamaah, saya adalah saya.”
Perilaku cuek mereka nampak juga dalam berpakaian. Mereka sering menyepelekan simbol-simbol seperti peci, sarung atau baju koko. Bagi mereka, simbol-simbol ini tak termasuk hal penting yang harus diperhatikan ketika menjadi imam sholat. Salah seorang informan menuturkan:
Saya sih kondisional dalam berpakaian. Jika siang hari lagi panas dan gerah, saya malas pakai koko. Saya lebih suka pakai kaos. Yang penting kan saya nyaman beribadah. Buat apa pakai baju rapi, tapi kita jadi nggak khusyuk karena menahan gerah.
Keempat, imam idealis-skripturalis. Imam jenis ini adalah mereka yang berupaya semaksimal mungkin melaksanakan sholat sesuai kaidah teks hadist, termasuk dalam sholat berjamaah. Jadi, pilihan-pilihan panjang pendekanya surat, pakaian yang dikenakan, sampai kaidah fiqih yang dipilih, semuanya bersandar pada ketentuan teks yang diyakininya sebagai sunnah Rasulullah SAW. Misalnya dalam hal bacaan sholat, mereka berupaya mengikuti kaidah sunnah. Salah seorang informan menuturkan:
Dalam sholat subuh dan isya’, saya biasanya memilih surat-surat yang agak panjang ayatnya, karena memang seperti itu lah yang diajarkan Rasulullah.
Dalam hal berpakaian, mereka berprinsip, sesuai dengan sunnah Nabi, yang penting adalah rapi, sopan, dan tentu saja menutup aurat. Simbol-simbol seperti kopiah atau baju koko, menurut mereka, tidaklah prinsipil karena hal tersebut lebih merupakan produk budaya.
Dan yang paling mereka pegang adalah dalam hal kaidah fiqih sholat. Mereka sholat sebagaimana Rasulullah sholat. “Jadi, ketika saya meyakini bahwa Rasulullah tidak qunut saat sholat subuh, saya juga akan begitu, di manapun saya sholat,” ujar salah seorang informan.
Bagi mereka, realitas makmum tidaklah mempengaruhi bagaimana sholat berjamaah dilakukan. Sebagai makmum, menurut mereka, seharusnya mengikuti penuh apa yang dilakukan imam dan bukan sebaliknya. Filosofinya, imam adalah pemimpin dan makmum adalah yang dipimpin, maka semestinya yang dipimpin (the follower) mengikuti yang memimpin (the leader). Informan mengungkapkan:
Wah, kalau sampai imam yang menyesuaikan makmum bahaya. Bisa-bisa kita jadi riya, sholat kita lebih dipengaruhi makmum.
Kelima, imam idealis-kompromis. Mereka yang termasuk di sini adalah yang berupaya melaksanakan tugasnya sebagai imam sesuai dengan kaidah sunnah, namun memperhatikan juga aspek lingkungan saat sholat. Bagi mereka, penyesuaian dengan lingkungan bukan berarti mengafirmasi tuntutan faktor eksternal di luar fiqih, tapi karena hal tersebut juga diajarkan oleh Rasulullah SAW. Jadi sikap kondisional tersebut, menurut mereka, tak lebih dari upaya mengamalkan sunnah juga. Seorang informan menuturkan:
Rasulullah pernah mempercepat sholatnya karena ada anak kecil yang menangis, padahal ibunya adalah salah seorang yang menjadi makmum nabi waktu itu. Rasulullah juga pernah sujud lama, karena Hasan dan Husen (cucu Rasul) sedang berada di atas punggung beliau. Jadi, Rasulullah pun sangat peka lingkungan.
Dalam hal fiqih pun mereka bersikap tidak hitam putih. Mereka berprinsip, fiqih Islam memberikan ruang yang luas bagi perbedaan pendapat (khilafiah). Karenanya, perbedaan yang ada jangan sampai menimbulkan kemudaharatan. Dengan alasan mencegah kemudharatan itu pula lah, kadang mereka mengamalkan tata cara ibadah di luar mazhab yang mereka yakini. Salah seorang dari mereka menuturkan:
Islam itu indah, selalu mengedepankan harmoni. Karena itu, demi kemaslahatan kadang saya melakukan qunut di depan makmum yang terbiasa menggunakan qunut. Ini lebih baik, daripada menimbulkan polemik dalam masyarakat awam. Ada atau tidaknya qunut tak akan membatalkan sholat. Jadi, jangan sampai yang tidak prinsip justru mengorbankan yang prinsip.
Pastor di dalam Misa dan dalam Kehidupan Sosial
Dalam Islam, tak ada lembaga khusus yang mencetak pemimpin agama. Bahkan siapa pun ummat Islam sesungguhnya adalah da’i (penyeru) yang bertugas menyampaikan ajaran agamanya. Dia , tentu saja bisa juga menjadi pemimpin ritual keagamaan. Begitupula dalam agama lains eperti Kristen Protestan, tak ada persyaratan yang rumit untuk sekadar memberikan khotbah dalam gereja. Menjadi pendeta mamang tak serumit menjadi Pastor.
Katolik termasuk agama yang sangat ketat dalam menentukan pemimpin agamanya. Untuk menjadi pastor misalnya, seorang umat katolik harus melewati rangkaian pendidikan yang rumit dan lama. Selama dua tahun dia harus mengikuti novisiat, empat tahun pendidikan filsafat, dua tahun orientasi kerasulan. Selain itu juga harus mengambil S2 teologi, setahun persiapan imamat, dan setahun imamat. Jadi, setidaknya butuh waktu 12 tahun untuk menjadi seorang pastor. Itu belum termasuk persyaratan berat yang harus dipenuhinya misalnya ketentuan tak boleh kawin selama menjadi pastor. Wajarlah kalau kemudian seorang pastor dalam katolik memiliki privellege tersendiri, baik secara teologis (misalnya memberi pengampunan dosa) , sosiologis (status sosial yang tinggi), maupun ekonomis (mendapat biaya hidup dari paroki).
Dalam ritual sperti misa, memang penuh dengan simbol-simbol, tetapi peran pastor secara personal tidak begitu nampak. Karena rangkaian ritualnya sudah baku dan tema-tema misa pun telah ditentukan oleh komisi liturgi. Berikut gambaran rangkaian misa (ekaristi) yang biasanya dilakukan di gereja:
PEMBUKAAN
Perarakan Masuk dengan lagu Pembukaan
Tanda Salib
Pemberian Salam dengan kata pembukaan
Pernyataan Tobat dengan: “Tuhan kasihanilah kami”
Madah Kemuliaan
Doa Pembukaan
LITURGI SABDA
Bacaan I (Perjanjian Lama)
Mazmur Tanggapan
Bacaan II (Perjanjian Baru)
Alleluia dengan Bait pengatar Injil
Bacaan Injil
Aklamasi Sesudah Injil
Homili
Aku Percaya
Doa Umat
LITURGI EKARISTI
- Persembahan
Mempersiapkan Persembahan (kolekte dan arak-arakan)
Doa Persembahan
- Doa Syukur Agung
Dialog Pembukaan
Prefasi dengan Kudus
Doa Ekaristi (dengan Konsekrasi dan Anamnese)
- Komuni
Doa Bapa Kami
Embolisme
Salam Damai
Anak Domba Allah ( Hosti)
Menyambut Komuni
Saat Hening
Syukur
Doa sesudah Komuni
PENUTUP
Pengumuman
Doa Penutup
Berkat & Pengutusan
Jadi, peran seorang pastor dalam memimpin misa sekadar mengikuti prosedur yang ada. Yang membedakan antara seorang pastor dengan pastor lain, mungkin pada gaya khotbahnya (homili), itu pun hanya berlangsung tak lebih dari 15 menit. Namun dalam rentang waktu itu sisi-sisi dramaturgis seorang pastor tetaplah kelihatan. Dengan minimnya peluang ‘improvisasi’ personal itu, sosok pastor dalam sebuah misa lebih menunjukkan peran sebagai pemegang ajaran Katolik yang teguh. Misa dibuat sedemikian kental nuansa ritualnya dengan rangkaian acara yang panjang, sehingga banyak jemaat yang tak hafal persis rangkaian acaranya.
Di luar uniformitas ritual misa, sosok seorang pastor tetaplah menampakkan sisi-sisi personalnya, yang biasanya sedikit banyak dipengaruhi asal ordonya (misalnya SJ, OSC, OFM, dan lain-lain). Pastor dari ordo SJ (Serikat Jesuit) misalnya – yang memfokuskan aktivitasnya pada pendidikan dan sosial, akan cenderung menekankan khotbahnya pada persoalan sosial-politik kontemporer. Salah seorang pastor menuturkan:
Tema memang ditentukan oleh komisi liturgy, tetapi pastor yang memberikan homili yang memberikan penekanan pada isu-isu relevan. Kalau saya dari ordo SJ, maka khotbah pun banyak yang saya arahkan pada persoalan pendidikan.
Jika jubah yang dipakai sama (umumnya putih atau ungu saat paskah), maka gaya rambut bisa membedakan antara satu pastor dengan yang lain. Ada seorang pastor di sebuah paroki yang berambut gondrong. Dia memang menekuni dunia kesenian, sehingga tampilannya pun bak seniman. Ketika memimpin misa, rambut gondrongnya tetap dibiarkan terurai (tidak diikat, sehingga lebiih rapi). Romo gondrong ini berprinsip gaya rambut tak akan menurunkan derajatnya sebagai seorang pastor. Dia menuturkan, “Hakikat seorang pastor adalah pelayanan, tak ada hubungannya dengan gaya rambut. Yesus sendiri kan gondrong, ha..haa..”
Hal yang menarik justru sisi dramaturgis seorang pastor di luar gereja, ketika mereka berinteraksi secara normal dalam masyarakat. Susah mengidentifikasi seorang pastor ketika mereka berada di luar geraja. Selain pakaiannya sama dengan masyarakat, mereka pun tak mengenakan tanda khusus seperti salib. Ada sebuah kisah lucu dari seorang pastor. Waktu itu dia sedang berobat di salah satu rumah sakit milik yayasan Kristen di Jakarta. Dokter yang menanganinya tak tahu kalau pasien yang dihadapinya adalah seorang pastor. Maka dokter yang mengenakan tanda salib itu pun menceramahinya dengan beberapa ayat injil. Si pasien tetap bergeming sampai dia tak sabar dan kemudian berujar, “Maaf saya seorang pastor di sebuah paroki di Bandung.” Maka Sang Dokter pun diam dan segera menuliskan resepnya.
Di tengah pergaulan dengan masyarakat, pastor banyak menampilkan sisi manusiawinya, misalnya dalam urusan hiburan. Beberapa pastor, di sela-sela aktivitasnya yang padat, kadang bermain PS (Play Station) untuk mengusir rasa jenuh. Banyak juga di antara mereka yang melewati acara makan-makan (di luar gereja) dengan bercanda, baik dengan jemaatnya (terutama yang sudah akrab) maupun dengan masyarakat lainnya, bahkan kadang canda tawa itu sampai ke tema-tema agak ‘jorok’.
Seorang pastor dari ordo SJ ketika mengisi seminar terkenal karena candanya yang selalu kocak. Hadirin hampir dipastikan selalu terpingkal-pingkal ketika mengikuti presentasinya. Sampai-sampai ada seorang yang nyeletuk, “Ini romo atau anggota srimulat.” Tentu saja ini berbeda dari suasan misa yang terlalu serius dan sakral. Dan pastor pun tak lagi berperan memimpin misa, tapi menjadi seminaris yang harus memikat bagi pendengarnya.
Bagi seorang pastor, ada tiga prinsip (kaul) yang harus dipegangnya yakni kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan. Karena alasan kemurnian itulah seorang pastor tak boleh kawin. Dengan prinsip kemiskinan itu, maka pastor harus menjaga jarak dengan urusan duniawi. Namun sisi-sisi manusiawi mereka kadang menampakkan fakta yang berbeda. Memang agak susah menelusuri harta kekayaan seorang pastor. Namun dari beberapa atribut yang dia pakai menunjukkan ‘penikmatan’ aspek duniawi. Ada beberapa pastor yang handphone-nya lebih dari satu dengan spesifikasi yang terbilang mewah. Meski dia berdalih pelayanan, agak aneh jika dia harus memilih HP yang berharga di atas Rp 3 juta itu.
Sebuah buku kumpulan kartun anekdot yang juga ditulis seorang pastor dari Semarang nampaknya bisa menjelaskan fenomena ini. Dalam salah satu gambarnya ditampilkan seorang seorang pastor yang mengendarai mobil mewah sambil matanya menoleh ke kanan-kekiri, khawatir kalau-kalau ada jemaat yang melihatnya. Pada gambar yang lain, nampak seorang pastor yang matanya berbinar penuh semangat ketika sedang mengantar rombongan jemaat yang terdiri dari ibu-ibu muda yang cantik dan seksi.
Di sini, di luar gereja, adalah panggung lain bagi seorang pastor. Dia tak lagi memerankan sebagai seseorang yang memegang teguh ajaran, tapi seringkali berperan sebagai manusia biasa yang suka hiburan, sex, dan juga senang mengumpulkan materi.
Kesimpulan
Dalam paradigma definisi sosial, orang berperilaku sesuai dengan definisi yang dia buat berdasarkan realitas sosial yang dia hadapi. Dan menurut Goffman, tafsir atas situasi itu berlangsung terus menerus dalam kehidupan manusia. Sehingga, peran-peran yang ditampilkannya pun terus berubah. Diri (self) adalah produk dialektis, sebagai hasil interaksi dramatis antara aktor dan audien (Ritzer, 2003:298). Bagi Goffman, individu tak sekadar mengambil peran orang lain, melainkan tergantung pada orang lain untuk melengkapkan citra diri tersebut (Mulyana, 2004:110).
Dalam konteks dramaturgi itulah kita bisa memahami perilaku para pemimpin ritual keagamaan. Jika dalam Islam imam sholat bisa tampil dalam berbagai tipe peran maka itu adalah hasil interaksi dramatis, yang tentu saja sangat personal sifatnya. Begitupula dengan fenomena pastor dengan berbagai perannya ketika di dalam dan di luar gereja. Suasana misa tentu saja berbeda dengan kondisi dalam seting kehidupan sehari-hari di luar gereja, sehingga akhirnya memunculkan efek dramatis yang berlainan pula pada sosok seorang pastor.
Di sini peneliti tak mempersoalkan aspek-aspek normatif dari perilaku tokoh-tokoh keagaamaan tersebut. Selain karena tak memiliki otoritas untuk itu, sungguh amat bias jika aspek-aspek simbolik dijadikan parameter untuk menakar derajat religiusitas seseorang. Keberagamaan, kata Y.B. Mangunwijaya, berbeda dengan religiusitas. Orang memang beragama, kata Romo Mangun, tetapi belum tentu ia juga manusia religius (Intisari, 2002:45). Sehingga untuk dapat mengatakan secara khusus dan tepat mana orang yang religius dan mana yang tidak adalah sebuah permasalahan yang kompleks. Walaupun agama merupakan persoalan sosial, tetapi penghayatannya amat bersifat individual.
***
Kepustakaan :
Littlejohn, Stephen W. 1996. Theories of Human Communication. Belmont, California: Wadsworth.
Mulyana, Deddy. 2004. Metode Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ritzer, George et.al. 2004. Teori Sosiologi Modern (terj). Jakarta: Prenada Media.
Majalah Initisari, edisi Desember 2002



Comments»
No comments yet — be the first.