Menulis Feature March 2, 2009
Posted by edisant in Jurnalisme.trackback
PERNAH membaca sebuah berita yang basi? Maksudnya, informasi yang kita terima dari berita itu bukanlah hal baru. Kita mungkin sudah mendengarnya dari radio, melihatnya di televisi atau membacanya di koran lain. Memang, aktualitas merupakan nilai berita yang penting. Lalu, bagaimana dengan media yang terbit mingguan atau bahkan bulanan? Seperti media kampus yang terbit tiap semester (atau justru setahun sekali?). Jelas dong, bagi media seperti ini kalah dalam hal aktualitas. Pengelola media memang harus kreatif agar tak ditinggalkan pembaca. Kalau kita tak bisa menjual aktualitas, kenapa tak menonjolkan misalnya kedalaman berita atau gaya bahasanya? Di sinilah pengenalan terhadap feature akan membantu kita. Banyak definisi feature, namun secara garis besar bisa dikatakan bahwa tulisan jenis feature memiliki ciri khas dalam gaya penuturan dan kedalaman informasi. Ada yang mengartikan feature sebagai berita dengan gaya bahasa yang menyastra. Ada pula yang mengatakan, jika kita bisa mengangkat informasi yang biasa menjadi berita yang luar biasa, maka itulah feature. Untuk lebih jelasnya, coba deh perhatikan penggalan berita berikut ini:
Hari ulang tahun mestinya disyukuri. Tapi tidak bagi Pak Karjo. Ulang tahunnya yang ke-41 telah mengubur cita-citanya menjadi PNS. Tukang kebun yang telah mengabdikan hampir separuh umurnya di SMU 202 itu tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Surat edaran pemerintah tentang pengangkatan calon pegawai negeri sipil (CPNS) sungguh menyesakkan dada lelaki dengan satu istri dan empat anak itu. Bagaimana tidak, di situ tertera aturan bahwa usia maksimal CPNS adalah 40 tahun….
Dengan pendekatan human interest, berita di atas tidak mudah lapuk oleh aktualitas. Itulah kekuatan feature, mampu menyajikan informasi dengan cara yang khas. Secara teknis penulisan, prinsipnya sama dengan straightnews, misalnya tentang unsur dan nilai berita, atau tentang teknik menulis yang mudah dipahami.
Untuk menulis features, pola tulisan menjadi fleksibel. Kita bisa menggunakan pola piramida terbalik atau yang lain. Cuma ada beberapa penekanan yang perlu diperhatikan. Redaksi Majalah Tempo mengistilahkan sebagai ‘Empat Senjata” dalam penulisan feature:
a. Fokus. Ini adalah langkah penentu, baik dalam penentuan cerita maupun dalam penulisannya. Maksudnya, ketika kita sudah menentukan sudut berita (angle) misalnya, maka harus konsisten. Semua informasi yang kita tulisa harus sesuai atau mengarah pada angle yang telah dipilih. Fokus itu ibarat unting-unting (itu lho, tali berbandul timah untuk mengukur tegak lurusnya tiang, rata tidaknya tembok). Fokus juga berarti kita tak tergoda dalam rimba kata-kata, tidak melebar ke sana kemari. Pilihlah kalimat yang benar-benar relevan dengan fokus berita!
b. Deskripsi. Ini ada kaitannya dengan teknik menulis yang bercerita. Media cetak memang kalah dengan televisi yang memiliki kemampuan audio-visual sehingga bisa menyajikan informasi apa adanya. Namun, tulisan juga bisa menggambarkan suatu suasana atau peristiwa secara hidup, bahkan mungkin bisa lebih imajinatif ketimbang televisi. Ada petunjuk untuk menulis deskriptif sebagai berikut:
1. Ingat, bahwa kita sesungguhnya adalah mata, telinga, dan hidung pembaca. Dan tugas kita adalah mengumpulkan segala informasi yang bisa dicerna pembaca, sehingga menjadi gambar.
2. Kehadiran kita sebagai reporter jangan mempengaruhi si subyek. Berbuatlah sehingga kita bisa mengamati subyek itu (misalnya seorang tokoh) dalam keadaan sewajarnya. 3.
Kumpulkan sebanyak-banyaknya catatan. Kemudian, sebelum menuls, saringlah mana yang kira-kira relevan.
4. Dalam menulis, sebarkan deskripsi sepanjang cerita. Jangan dihimpun pada satu bagian, sehingga enak dibaca.
5. ambillah jalan tengah antara terlalu banyak deskripsi dan terlalu sedikt deskripsi.
c. Anekdot. Ini berkenaan dengan hal-hal menarik atau lucu yang berhasil kita himpun saat reportase. Sisipkan anekdot, maka berita kita akan lebih menghibur. Wartawan harus kreatif mengorek anekdot, terutama menyangkut tokoh. Kalau yang bersangkutan enggan bercerita, atau kita ingin mengorek lebih jauh, kita bisa menanyai orang-orang terdekatnya. Misalnya, kita ingin membuat profil kepala sekolah, kita bisa menanyai istrinya. Kita bisa bertanya, “Ibu, maaf, bisa diceritakan hal-hal lucu dari kehidupan Bapak?” Si Ibu barangkali akan bercerita banyak, bahkan dia dia bisa menceritakan kenangan indah masa lalunya bersama sang suami. d. Kutipan. Kutipan langsung akan membuat tulisan menjadi variatif, tidak monoton. Berita juga akan menjadi lebih hidup dan ekspresif. Perhatikan paragraf berikut:
“Saya kadang sedih melihat sekolah ini,” ujar Kepala Sekolah pelan. Tatapannya tak lepas dari bangunan tua yang nyaris roboh di depannya. “Semoga pengganti saya bisa mencari bantuan dana untuk merehab gedung ini,” lanjut laki-laki berusia 65 tahun itu.
Bayangkan kalau paragraf di atas tak dilengkapi kutipan langsung. Akan terkesan monoton kan? Ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan untuk memutuskan akan mengutip langsung atau tidak:
1. Apakah kutipan itu kata-katanya tidak berantakan, ringkas dan jelas? Bila jawabannya tidak, kita harus memakai kalimat tidak langsung.
2. Apakah kutipan langsung itu akan memperkuat efek, memperjelas siapa yang bicara, atau menambah kesan sebagai pendapat dari orang yang memang layak dikutip? Bila iya, pakailah kalimat kutipan langsung. Dan sebelum kita mencoba menulis feature, perhatikan betul lead. Buatlah semenarik mungkin, sehingga pembaca tergoda untuk menikmati tulisan kita! Berdasarkan tipenya, features bias dibedakan menjadi:
1. Features human interest (langsung sentuh keharuan, kegembiraan, simpati dan sebagainya). Misal, cerita tentang liku-liku guru di daerah terpencil.
2. Features pribadi-pribadi menarik atau biografi. Misal, kisah tentang seseorang yang berprestasi atau memiliki keunikan dan bernilai berita tinggi.
3. Features perjalanan. Kunjungan ke tempat-tempat menarik, yang memiliki nilai sejarah atau daya tarik tinggi. Dalam features jenis ini, biasanya unsur subyektivitas menonjol, karena seringkali penulisnya terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan tersebut. Di samping itu, dalam pemberitaannya juga menggunakan sudut pandang orang pertama yakni “aku”, “saya”, atau “kami”.
4. Features sejarah, yaitu tulisan tentang peristiwa masa lalu. Misal, peristiwa Proklamasi kemerdekaan, atau peristiwa keagamaan dengan memunculkan “tafsir baru” sehingga tetap terasa aktual untuk masa kini.
5. Features petunjuk praktis (tips), atau mengajarkan keahlian (how to do it). Misalnya tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah dan sebagainya.



Comments»
No comments yet — be the first.