Jurnalisme Nurani February 26, 2008
Posted by edisant in Jurnalisme.Tags: jurnalisme nurani
trackback
DALAM khasanah jurnalisme, memang tidak ada rumusan yang baku tentang apa itu jurnalisme nurani. Istilah ini kemudian dimaknai secara kontekstual dan partikular. Jean Lacouture (1990) misalnya, menyebut nurani sebagai nilai dasar yang melekat pada setiap manusia, sehingga seorang jurnalis sesungguhnya adalah mahluk nurani. Dia menandaskan, “The journalist is a creature with a conscience that no press baron, no dominant ideology, no group complicity can ever completely suppress. Kovack dan Tom Rosentiel, dalam bukunya “Sembilan Elemen Jurnalime”, memasukkan prinsip “kewajiban terhadap nurani” sebagai elemen kesembilan dari jurnalisme. Pengertian nurani, menurut kedua jurnalis senior itu, adalah sesuatu yang dipercayai oleh jurnalis. Sebagian besar jurnalis yang diwawancarai Kovack dan Rosentiel sepakat bahwa jurnalisme adalah sebuah tindakan moral. Para jurnalis itu sadar bahwa semua latar belakang dan nilai yang mereka miliki bisa mengarahkan pada apa yang akan mereka kerjakan dan atau tidak kerjakan dalam membuat berita. Komitmen nurani lebih dari sekadar kaidah dasar jurnalisme. Seperti dikatakan Linda Foley, presiden Newspaper Gulid, kemampuan jurnalis untuk mengikuti nurani jauh lebih penting daripada apapun yang mereka percayai atau keyakinan apapun yang mereka bawa ke dalam pekerjaan mereka. Kredibilitas lebih penting daripada objektivitas. Fred Inglis mendefinisikan jurnalisme nurani secara lebih spesifik, yakni komitmen moral dalam praktik jurnalisme. Menurut pengajar Yale University ini, jurnalisme nurani adalah jurnalisme yang baik, yakni jurnalisme yang menjunjung nilai-nilai kebenaran, dapat dipercaya dalam mengungkap fakta, dan memberikan ruang bagi kesaksian khalayak.Jurnalis senior Jerry Mitchell mengatakan bahwa kehadiran jurnalisme nurani adalah kebutuhan yang mendesak saat ini, ketika muncul kecenderungan banalitas jurnalisme. Khalayak lebih banyak dijejali dengan informasi sampah dari obrolan, talk show murahan, atau berita hiburan. Mitchell menandaskan, “It is Time for a journalism that perseveres in spite of hostile forces. It is Time for a journalism that believes in doing the right thing. It is Time for a journalism that desires to help the undesirable. It is Time for a journalism that never forgets the forgotten. It is Time for a journalism that cares.Call it conscience journalism, if you like … Jurnalisme nurani, kata Mitchell, mengabdikan dirinya untuk kebenaran. Jurnalisme nurani akan meluruskan kesalahan-kesalahan manusia saat ini maupun masa lalu. Jurnalisme nurani merupakan terobosan untuk melakukan perubahan konstruktif, sehingga jurnalis akan menemukan peran-peran idealnya.Sementara itu dalam seminar bertajuk “The Conscience of the Journalist: Individual Responsibility in the Media”, Januari 2001 di London, para praktisi media yang menjadi pembicara dalam acara tersebut menyepakati bahwa inti dari nurani seorang jurnalis adalah pertanggungjawaban. Dengan segala fungsi ideal yang diembannya, seorang jurnalis pada akhirnya akan dihadapkan pada sebuah pertanyaan etis: Sudahkah ia bisa mempertanggungjawabkan kerja jurnalisme berdasarkan kaidah-kaidah moral yang diyakininya?Seperti Gunawan Muhammad yang mengatakan bahwa jurnalisme sesungguhnya adalah laku moral, John Sweeny dari The Observer—salah seorang pembicara dalam seminar tersebut mengatakan bahwa jurnalis adalah profesi moral (moral profession). Jurnalis tak bisa lepas dari aspek moral, karena, “it is a job where you have to make people care about things,” kata Sweeney. Rush Kidder dari Sunday Time pun menegasakan hal serupa, karena peran redaktur sangat strategis yakni: to find out what people need to know, and then to make them want to know it.Dalam praktiknya, jurnalisme nurani terkait erat dengan komitmen jurnalis pada etika. Karena itulah, menurut Kidder, jurnalisme nurani akan bisa direalisasikan ketika pers tak semata-mata menggunakan bahasa ekonomi dan politik, tetapi juga yang lebih utama adalah menggunakan bahasa etis, yakni bahasa yang menyinggung nilai-nilai, tentang perilaku baik dan buruk.Jurnalisme nurani juga sering dimaknai secara praktis, menjadi semacam prosedur jurnalisme. Jurnalis Sinar Harapan, Murizal Hamzah misalnya, mengintroduksi istilah jurnalisme nurani sebagai gambaran prinsip yang dia pegang selama menliput konlik TNI-GAM di Aceh. Menurut Hamzah, jurnalis yang meliput berita di area konflik hendaknya hendaknya yakin pada instingnya, memiliki sensitifitas budaya, dan pengetahuan umum.Perspektif praktis tentang jurnalisme nurani juga dinyatakan oleh jurnalis senior James Kelly. Menurut Redaktur Pelaksana majalah Time ini, jurnalisme nurani lebih menggambarkan perhatian media pada isu-isu kemanusiaan. Dia memberikan contoh majalah Time yang selalu peduli pada isu-isu kemanusiaan global, seperti HIV, genosida, atau pemanasan global.Masing-masing pihak punya definisi yang berbeda tentang jurnalisme nurani. Dalam wacana ilmu sosial memang tak ada yang tunggal, sebagaimana para jurnalis juga tak ada kata sepakat tentang apa itu berita. Meskipun terdapat banyak definisi, ada benang merah yang menghubungkan berbagai pendapat tentang jurnalisme nurani, yakni keyakinan jurnalis. Keyakinan di sini berarti apa yang dipercayai oleh jurnalis untuk dilakukan dalam proses kerjanya, bisa berdasarkan nilai-nilai agama yang diyakininya atau nilai-nilai umum yang dipahami manusia. Keyakinan juga merujuk pada hakikat kebenaran yang dipahami jurnalis. Bagi Tarbawi misalnya, kebenaran itu bermakna apa yang telah digariskan kitab suci. Bagi media lain, kebenaran bisa bermakna nilai-nilai yang disepakati oleh mayoritas manusia. Hakikat benar salah dalam batas-batas tertentu memiliki ruang yang bisa dipahami bersama dalam masyarakat. Tentang tindak kejahatan misalnya, entah berupa pembunuhan, penipuan, perampokan, pemerkosaan, atau penyalahgunaan wewenang, bisa dipastikan semua masyarakat sepakat menggolongkannya sebagai perbuatan yang salah. Sebaliknya, mereka juga akan sepakat bahwa kejujuran, keadilan, atau kepahlawanan adalah nilai-nilai positif yang harus dijunjung tinggi. Ketika majalah Time memberikan meggambarkan jurnalisme nurani sebagai komitmen media pada isu kemanusiaan, tentu didasarkan pada keyakinan masyarakat global bahwa ada masalah kemanusiaan yang harus ditanggulangi bersama, misalnya penderitaan karena penyakit atau kekerasan pihak lain. Nilai-nilai yang dijunjung adalah kebersamaan, kepedulian, atau kesetiakawanan.



Comments»
No comments yet — be the first.